Photo by Denise Jones – unsplash

Bismillah, Alhamdulillah wa sholawatu wassalamu ala rosulilllah, amma ba’du.

Jika kita bertanya kepada seluruh manusia yang hidup di dunia ini, manusia dengan berbagai macam latar belakangnya, manusia dari berbagai golongan agama, profesi, bangsa, baik yang kaya maupun yang miskin tentang keinginan mereka dalam hidup ini, tentu mereka semuanya akan menjawab “Saya ingin Bahagia.”

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari-cari oleh semua manusia. Semua orang beraktivitas dengan cara yang berbeda dengan tujuan untuk mencari hakekat kebahagiaan. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.

Apabila kebahagiaan bisa dibeli dengan uang, maka bisa jadi setiap orang kaya telah  memilikinya, apabila kebahagiaan itu terletak pada jabatan, maka setiap raja-raja dunia telah memilikinya, jika kebahagiaan itu terletak pada popularitas, tentu setiap penyanyi dan artis telah memilikinya, akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Banyak manusia yang telah Allah anugerahi kekayaan, jabatan, dan popularitas, namun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri ataupun memakai obat-obat terlarang untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan. Karena kebahagiaan adalah dengan tenangnya hati dan lapangnya dada, maka sesungguhnya kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh seberapa besar harta, jabatan, dan popularitas yang dimiliki oleh seseorang. Bisa jadi diantara mereka ada yang tidak bisa memiliki kebutuhan pokoknya setiap harinya, akan tetapi mereka adalah seorang yang benar-benar bahagia dan bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.

Jika mayoritas manusia di bumi ini kebingungan tentang cara mendapatkan kebahagiaan, maka bagi seorang mukmin kunci dari kebahagiaan itu sudah terpampang jelas dihadapannya. Bahkan tatkala dia mendapatkan kesulitan, itu menjadi salah satu jalan untuknya meraih kebahagiaan. Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Dari penjelesan diatas, berikut hal yang ingin saya lakukan dan wujudkan dalam kehidupan saya.

Beriman dan melakukan amal shalih

Allah telah menjanjikan bagi setiap manusia yang beriman dan melakukan amal shalih akan mendapatkan kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik. Allah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl: 97)

Dengan selalu mengerjakan shalat, sedekah, puasa dan berbagai amal saleh lainnya, disertai dengan iman bahwa Allah akan memperbaiki segala urusannya, manusia akan memiliki pondasi yang kuat untuk menghadapi segala perubahan hidup, baik dalam hal kesenganan maupun kesulitan dalam hidupnya.

Menuntut ilmu yang bermanfaat

Menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu agama dan ilmu duniawi dalam bidang teknologi informasi untuk menunjang pekerjaan, akan membuat saya bahagia dan menambah semangat dalam hidup. Ilmu duniawi yang saya dapatkan akan menunjang pekerjaan saya dalam mencari nafkah untuk keluarga yang menjadi salah satu bagian dari ibadah. Terlebih lagi dalam ilmu agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu masjid Allah, untuk membaca Al-Qur`an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun ketenangan, dilingkupi rahmat Allah, dikelilingi para malaikat, dan Allah memuji mereka di hadapan malaikat.” (HR. Muslim).

Selalu mengingat Allah

Dzikir kepada Allah merupakan sebab yang besar diraihnya kelapangan dada, dan hilangnya kesedihan hati. Allah berfirman,

ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (Qs. Ar-Ra’du:28).

Bersyukur atas nikmat yang Allah berikan

Dengan selalu bersyukur kepada Allah atas nikmatNya yang nampak maupun tidak nampak, manusia akan merasakan kebahagiaan dan ditambah nikmatnya. Sebagaimana Allah berfirman,

ئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim:7)

Selalu berusaha dan bertawakal

Saya akan selalu berusaha baik dalam kegiatan pekerjaan saya, melakukan yang terbaik untuk kemajuan perusahaan dan kemajuan diri pribadi saya. Menebarkan manfaat untuk manusia lainnya, serta selalu bertawakal atas segala usaha yang telah saya kerjakan. Sebagaimana Allah berfirman, 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Qs. Ath-Thalaq: 3)

Dari ayat tersebut saya mengimani bahwa Allah akan memberikan kecukupan bagi hambaNya yang bertawakal, kecukupan pada urusan agama maupun dunianya. Dan bagi manusia yang telah diberikan kecukupan pada urusan agama dan dunianya, tumbuhlah ketentraman dan kebahagiaan di dalam hatinya. Sehingga ia telah menemukan kunci dari kebahagiaan tersebut.

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

About Abdurrahman Muhammad Isrofi