INSIGHT & OUTSIGHT

Blink - Kemampuan Berfikir Tanpa Berfikir

by Syahrul Munir

Pertama tama, kita perlu tahu tentang definisi dari judul BLINK itu sendiri.

Blink by Malcolm Gladwell

Cerita awal berpusat pada penemuan patung yang diperkirakan, dibuat pada tahun 500an tahun sebelum masehi.

Patung tersebut sangat langka, karena ditemukan dalam kondisi yang masih sangat terawat.

Untuk memastikan hal tersebut, beberapa orang melakukan penelitian terhadap patung tersebut.

Dalam waktu 14 bulan, hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa patung itu asli, dan memang dibuat ribuan tahun yang lalu.

Akhirnya patung tersebut dipamerkan kepada khalayak dalam sebuah museum.

-

Pengunjung datang silih berganti

Sampai ada satu pakar dalam hal perpatungan yang menjumpai patung tersebut.

Ada sesuatu yang janggal, yang dia rasakan saat pertama kali melihat patung tersebut.

Seperti ada sesuatu yang salah, ada yang kurang.

-

Kemudian datang kembali pakar perpatungan yang lain.

Dia selalu menuliskan kesan pertama ketika melihat sebuah karya seperti itu.

Hal pertama yang dituliskannya adalah “FRESH”

Dia merasa bahwa patung tersebut, merupakan patung yang baru.

Yang masih segar.

Bukan patung yang dikatakan sudah berusia ribuan tahun.


Kemudian datang sekali lagi pakar perpatungan.

Jawabannya adalah sama.

Ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa ada yang aneh dengan patung tersebut.

-

Timbul keraguan akan keaslian dari patung tersebut, dan terjadilah perdebatan.

-

Hingga dilakukan penelitian sekali lagi, dengan lebih cermat.

Dan menemukan bahwa patung tersebut memang bukan patung dari ratusan tahun sebelum masehi.


Para pakar perpatungan mempunyai naluri untuk merasakan bahwa patungan tersebut palsu hanya dalam waktu sekian detik ketika pertama kali melihatnya.

Bagaimana mereka mengerti bahwa patung itu palsu?

Dibandingkan dengan penelitian yang menghabiskan waktu berbulan bulan tadi.

Nah, BLINK akan menjelaskan tentang waktu sekian detik tersebut.


“A figurine of a stormtrooper under a desk lamp with an incandescent light bulb” by James Pond on Unsplash

BAB 1 — Bagaimana tahu sedikit bisa berarti banyak.


Cerita berikutnya datang dari sepasang suami istri yang di tes di “Laboratorium Cinta”.

Tes dilakukan dengan cara menaruh 2 kamera video, untuk merekam masing masing dari suami istri tersebut.

Dalam tes tersebut peniliti melihat bagaimana reaksi emosi dari sepasang suami istri tersebut ketika mereka sedang berdiskusi.

Peneliti menggunakan teori yang disebut SPAFF (specific affect)

Dengan menandai setiap emosi yang terlihat dengan 20 kode berbeda.

Penelitian ini akan membuat prakiraan yang cukup akurat untuk membuktikan pasangan tersebut akan tetap bersama pada belasan tahun mendatang, atau justru mereka akan berpisah.

  • Dengan menonton rekaman dalam waktu 1 jam, peneliti bisa memastikan keakuratan dari prediksi hingga 95%.
  • Dengan menonton rekaman dalam waktu 15 menit, keakuratan masih dalam kisaran 90%.
  • Dalam waktu yang lebih singkat, ternyata si peniliti masih bisa membuat prediksi yang cukup akurat.

Tapi, bagaimana cara sang peniliti yang dengan disibukkan menonton video bisa menandai emosi dengan 20 indikator berbeda?

Ternyata tidak serumit itu.

Jika disederhanakan kondisi manusia berada dalam dua sentiment.

  • Sentiment positif
  • Sentimen negatif

Dalam keadaan yang buruk, jika pasangan tersebut dalam posisi Sentimen Positif. Respon selanjutnya akan terus positif, akan mencari solusi, akan siap mendengarkan pasangannya.

Sebalinya, dalam kedaan yang bahkan netral, jika pasangan tersebut dalam posisi Sentimen negatif. Respon apapun yang dilakukan pasangan akan menjadi negatif, dan terus berlanjut dengan dugaan negatif-negatif lain.

Akan sangat sulit mengubah keadaa sentimen negatif ini, jika salah satu mencoba untuk memperbaiki keadaan. Usaha tersebut akan tetap dipandang negatif.


Kembali lagi, bagaimana si peniliti bisa membuat prediksi yang sangat akurat hanya dengan melihat video dalam waktu beberapa saat.

Ternyata dia cukup memperhatikan 4 kunci, kunci tersebut adalah:

  • Sikap defensif
  • Tak menjawab atau asal menjawab
  • Sikap mencela
  • Sikap merendahkan

Dari empat jenis emosi tersebut, sikap merendahkan yang menurut peniliti memiliki peranan besar dalam menentukan bahwa pernikahan sebuah pasangan bermasalah.

Itu dia, alam bawah sadar yang sedang bekerja. Saat peneliti mengambil keputusan mengabaikan hal yang tidak diperlukan. Berfokus hanya pada satu inti masalah.

Bagaimana yang sedikit bisa berarti sangat banyak


Cerita yang lain

Berasal dari percobaan yang dilakukan di sebuah Universitas.

Percobaan tersebut untuk mengenali kerpibadian seorang mahasiswa, dengan memberikan survey kepada teman dekat dari mahasiswa yang menjadi objek penelitian.

Penilitian berfokus pada kepribadian seperti;

  • apakah mahasiswa ini seorang yang extrovert atau introvert;
  • apakah dia orang yang tertib atau urakan;
  • apakah mahasiswa tersebut imajinatif atau praktis;
  • apakah dapat dipercaya atau tidak;
  • apakah mahasiswa bersikap terbuka dengan sesuatu yang baru.

Hasilnya tidak mengejutkan, teman dekat si mahasiswa bisa mendiskripsikan dengan baik kepribadiannya dengan hasil yang cukup akurat.

Kemudian dilakukan percobaan yang sama, tetapi sedikit berbeda.

Angket survey diberikan kepada orang lain, yang bahkan tidak mengenal si mahasiswa (objek yang diteliti).

Dengan cara memeriksa kamar dari mahasiswa yang diteliti selama 15 menit.

Kemudian orang yang melihat kamar tersebut harus mengisi beberapa pertanyaan mendasar tentang penghuni kamar, apakah penghuni seseorang yang suka bicara, belajar tekun, senang membantu, dan lain sebagainya. Menggunakan skala 1 sampai 5.

Hasilnya cukup mencengangkan, orang asing dapat menilai para mahasiswa yang diteliti tersebut dengan lebih akurat. Dalam hal bagimana mahasiswa tersebut dapat dipercaya atau tidak, kestabilan emosi, dan keterbukaan terhadap hal baru.

Cuplikan tipis ini, yang menjelaskan bagaimana yang sedikit dapat berarti sangat banyak. Hanya dengan melihat lihat kamar seorang mahasiswa.

to be continued..

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

4 Comments

  1. Ranggi Ramadhan on 10 February 2019 at 19:15

    Baru baca ini, menarique jadi sedikit tahu cara melihat perilaku orang lain, bersentimen negatif atau positif hmm

    • Syahrul Munir on 12 February 2019 at 06:10

      Lek wes kadung benci karo wong, masio wong iku mau niate apik misal “nawari ngombe”, besar kemungkinan ngombe iku mau bakal diarani onok racune/ onok apan-apane/ onok karepe. (sentiment negatif)

      Tapi lek wes kadung cinta. Masio scoopyne diajurno, arek wedok iku sek tetep iso mikir positif, “kan itu cuma satu kesalahan dia, masa ngorbanin seribu kebaikan..” (sentiment positif)

      ?

  2. Yolanda Krisnadita on 12 February 2019 at 16:25

    Aku sik kurang paham sih mas, dari contoh-contoh cerita yang disampaikan ini. Terus caranya tau kita mempraktekan blink ketika diperhadapkan dengan orang baru dan caranya menilai orang tersebut ada dalam sentimen positif atau negatif gimana dong?

    • Syahrul Munir on 1 March 2019 at 08:20

      Hmm.. Gimana yah..

      Dalam bab tersebut tidak dijelaskan secara mendetail gimana cara menilai sentimen orang.

      Cuma.. salah seorang di dalam Lab Cinta tersebut (yang semacam kepala lab) punya “panduan khusus” ketika meneliti interaksi sepasang suami istri.

      Dia (kepala lab) dengan panduan tersebut bisa prediksi dan menilai tingkat kelanggengan pernikahan mereka di masa depan.

      Untuk menilai kelanggengan pasutri, dia punya 20 kode khusus yang dipakai untuk menandai setiap tindakan yang dilakukan pasutri tadi ketika berinteraksi.

      Tiap tindakan yang terjadi, tiap detik. Nanti hasilnya dihitung dari sana. Perbandingan emosi positif dengan negatif.

      Sentimen tadi adalah hasil dari proses perhitungan itu.

      Tapi.. tapi.. profesor dapat membuatnya lebih simpel, dengan hanya pakai 4 macam tanda. Dia bisa membuat tebakan yang tidak kalah akurat.

      Salah satu tanda kuncinya adalah ketika salah satu / dua dari pasutri tersebut melontarkan perkataan yang menjatuhkan lawan.

      Lebih seperti merendahkan pasangan (merasa jijik).

      Dia memcontohkan dengan perkataan “Kamu cewek murahan, kamu cewek sampah”.

      Yang punya nilai besar cukup besar, untuk mengatakan bahwa pasutri ini tidak akan langgeng di masa depan.

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.