INSIGHT & OUTSIGHT

Ketika Marah Sudah Sampai di Ubun
(Studi Kasus Praktek Stoisisme)

by Syahrul Munir

Menjawab pertanyaan dari Akbar, di kolom komentar artikel ulasan buku Filosofi Teras. Yang sekaligus jadi lanjutan untuk tulisan tersebut.

Sesuai judulnya, artikel ini akan pakai studi kasus yang dicontohkan oleh Akbar.

WhatsApp Image 2019-03-03 at 3.51.13 AM

...dipikir dulu kira-kira apa yang buat dia menjengkelkan?


Coba perhatikan pernyataan Akbar di atas! Kalimat tersebut fokusnya ke external, ke temannya.

Coba sekarang fokus ke internal, diri kita. Gimana kalo diganti jadi "Kenapa juga aku jadi jengkel, dan apa manfaatnya buatku?"

Filosofi Teras atau Stosisteme mengajarkan untuk selalu under-control.

Coba cek lagi bagian Dikotomi Kendali di artikel sebelumnya. Salah satu pernyataanya adalah "Yang ada dalam kendali hanyalah pikiran, perkataan dan perbuatan kita."


Teman yang menjengkelkan berarti Persepsi dari Anda sendiri dong?

Hmm, tidak semudah itu ferguso..

Dapat dimengerti! itu tadi secara terorinya aja sih.

Pertanyaan lagi, yang bikin jengkel di sini apa? Perkataanya kah, perbuatannya kah? Seberapa menjengkelkan?

Coba dilihat lagi secara objektif dari realitanya. Selama dia tidak menyakitmu secara fisik, harusnya baik-baik aja kan?

Tetap saja ferguso, tidak semuda itu..

WhatsApp Image 2019-03-03 at 4.17.11 AM (1)

 

Aku sendiri kadang masih kebawa respon otomatis. Contoh aja yang paling biasa aku alami. Pas enak-enaknya ngerjakan tugas, terus tiba-tiba PC mati karena listrik padam.

Seketika aku langsung jingkat.. AllahuAkbar..!!

Aku sendiri kadang masih kebawa respon otomatis. Contoh aja yang paling biasa aku alami. Pas enak-enaknya ngerjakan tugas, terus tiba-tiba PC mati karena listrik padam.

Bisa saja saat itu juga marah-marah mengutuk PLN! DASAR TIDAK BECUS!

Tapi sekarang dengan praktek Stoic, jadi lebih rasional dan cepat "reda" emosinya. Tidak terus berlarut-larut kemudian meratapi PC yang mati tadi, dan lebih bisa fokus untuk lanjut ke solusi yang dapat dilakukan.

Masalahnya ini kan orang yang bikin jengkel bosqu..


Oke tetap tenang, Positif thinking..! dududu~~

S.T.A.R. Namanya

Ada satu teknik yang diajarkan oleh penulis Filosofi Teras bernama S.T.A.R yang berupa singkatan untuk Stop, Think & Assess, Respond.

1. STOP

Segera stop saat itu juga, ketika kamu merasakan emosi "negatif" muncul. Takut, khawatir, marah, cemburu, curiga, stress, sedih. Aneh mungkin menghentikan emosi spontan tadi, atau mungkin kamu pikir itu mustahil. Tapi coba sajalah, latih terus sampai biasa. Bisa karena biasa bukan?

2. THINK & ASSESS

Pikir dan Nilai! Dengan berfikir rasional kita sudah bisa mengalihkan respon otomatis tadi. Sebuah pencapaian lho ini!

Setelah itu coba nilai keadaan yang saat ini kamu alami. Apakah kondisi external tadi dapat kamu ubah untuk memperbaiki keadaan? Atau kamu hanya dapat mengubah kondisi internalmu? Mengganti persepsi/ interpretasi keadaan yang saat ini kamu alami

3. RESPON

Semoga sekarang emosi kamu sudah sedikit turun. Kita bisa mulai pikirkan respon yang akan kita berikan ketika mengalami keadaan saat ini.

Kalo dalam keadaanku tadi, hal external seperti listrik PLN padam. PLN tidak dalam kendaliku. Jadi daripada mengutuk, lebih baik aku cari agar PC ku bisa hidup lagi. Usahaku adalah menyalakan genset.

Pekerjaan yang hilang? Lalukan. Mau gimana lagi, kenyataannya emang gak bisa balik kan.

Sudah lebih bisa diterima penjelasannya? Atau masih belum puas?

Sebenarnya lek cuma sampai ..akhire kependem? Asumsinya Anda belum move on bosqu, karena belum diatasi perasaane iku. Coba dengarkan INSPIGO yang episode Sukses Gagal.

Jadi Stoisism tidak menghalangi seseorang untuk merasa sedih, kecewa, marah. Karena itu respon otomatis/reflek dan itu manusiawi. Cuman yang kurang pas, jika emosi itu jadi keterusan dan bikin kita gak produktif, gak move on move on.


Kasih komentar lagi, biar makin seru diskusinya 🙂

ralphwaldoemerson1-2x.jpg

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

9 Comments

  1. Sonia Cynthia Elchitian on 10 March 2019 at 14:43

    Betul massyah, contoh dr listrik mati, kalo cuma jengkel mengumpat apa kerjaan bakal balik lagi ke Pc? Enggak hehe jd lbh baik tenaga mengumpat disimpan buat ngerjakan ulang lg dan jgn lupa dikit2 selalu di save supaya aman?

    • Syahrul Munir on 17 March 2019 at 13:13

      nah, mantap iku.. jadi belajar.. jadi punya solusi.. jadi bisa antisipasi kalo nanti terjadi lagi..!

  2. Mochammad Syaifuddin on 11 March 2019 at 14:07

    Bagi saya, ketika emang marahnya ngga bisa kebendung, saya harus tanggungjawab dengan emosi tersebut. Saya sendiri sedang menerapkan pikiran “bodo amat” ketika ada sesuatu yang terjadi, dan ya walau kedengarannya buruk tapi works bagi saya :))

  3. Yolanda Krisnadita on 12 March 2019 at 00:37

    Nah, bisa sebagai tambahan, untuk mengelola proses move on dari perasaan yang kurang enak atau emosi-emosi yang membuat tak nyaman. Ada 3 metode pilar yang sedang aku pelajari dan dengarkan podcastnya. Namanya Amati, Alami dan Asah. Akan aku share ketika sudah beres yaaa,,, masih mencoba untuk prakteknya. hihihiihihihi

    • Yolanda Krisnadita on 12 March 2019 at 00:38

      #SpoilerAlert

  4. Fitra Ardina on 13 March 2019 at 14:54

    kadang aku pernah mikir untuk nggak emosi dan dialihkan ke hal lain atau dengan cara2 diatas, tapi kadang masih suka kepikiran dengan sharing session kapan lalu tentang pengendalian emosi. bapaknya blg “tidak semua emosi harus dihilangkan, kalau terpendam terus menerus akan menjadi penyakit dalam tubuh”
    karena menurutku cara diatas itu sekilas seperti hanya untuk mengalihkan perhatian/melupakan emosinya saja tanpa menyelesaikan emosi itu sendiri.
    jadi bingung…
    mohon pencerahan kakak 🙁

  5. […] Menjawab pertanyaan Mbak Fitra Ardina. Di kolom komentar artikel "Ketika Marah Sudah Sampai di Ubun" […]

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.