Skip to content

INSIGHT & OUTSIGHT

Kunci Membangun Mental Tangguh Biar Kamu Gak Gampang Galau!

by Syahrul Munir

Kuncinya adalah sebuah Filsafat peninggalan Yunani kuno 2000 tahun yang lalu, bernama Stoisisme.

Shared from Lightroom mobile

Beberapa waktu lalu Mbak Yolan bikin challenge "1 bulan, 1 buku, 1 review", tantangan untuk membaca satu buku kemudian membuat review buku tersebut. Saya ikut, selain Mbak Yolan sendiri dan Mbak Lona. (kalo mau gabung boleh tinggalkan pesan di kolom komentar, nanti biar saya follow-up dan masukkan grup).

Kemudian saya pilih buku pertama untuk challenge ini, yang berjudul "Filosofi Teras" karya Henry Manampiring.

Widih.. bacaannya Filsafat!

Mungkin di awal kalian bayangkan filsafat adalah tema yang berat untuk dibaca awam, seperti saya. Tapi setelah rampung membacanya, saya rasa tidak terlalu berat juga.

Karena penulis dapat dan sengaja mengemasnya dalam bahasa yang mudah dipahami, sederhana, practiceable, dengan contoh-contoh seputar topik kekinian. Karena bukunya sendiri yang baru dirilis, November 2018 lalu.

Kembali ke topik Filosofi Teras.

Dapat dipastikan kamu pernah merasa dongkol/ marah/ kesel/ mangkel/ sambat, karena sebuah keadaan yang bisa jadi terkadang itu bersumber dari perlakuan orang lain kepadamu.

Kapan tepatnya, terakhir kali kamu rasakan hal yang seperti itu? Sambil mengingat kejadian yang bikin kamu jadi kesel tadi, nanti bisa kamu tulisan di kolom komentar apa itu!

Saya akan coba kasih contoh:

Suatu pagi ketika berangkat ke kantor, ternyata jalan yang kamu lewati sedang macet-macetnya. Dan kamu tidak tahu sebab dari kemacetan tersebut.

1-2 menit, kamu masih bisa lewat sela-sela kendaraan.

3-4 menit, makin banyak yang ngepot-ngepot di sela kendaraan. Yang mulai tidak sabar, membunyikan klakson. Bersahut sahutan.

Menit ke 5, rasanya seperti sudah setangah jam di jalan. Kamu mulai khawatir telat datang kantor, kamu mulai ikut-ikut membunyikan klakson.

Kamu mulai sambat dalam hati, mengumpat, menyebutkan jenis-jenis serangga hingga mamalia, mengutuk kejadian ini.

Setelah perjuangan yang cukup panjang kamu tetap sampai di kantor, masih dalam keadaan dongkol karena kemacetan. Membuat hari ini terasa sangat menjengkelkan.

Familiar dengan keadaan semacam itu?


Filosofi teras mengatakan bahwa semua kejadian yang kita alami sebenarnya bersifat netral. Tidak baik ataupun buruk.

Yang membuat itu bernilai baik atau buruk, hanyalah opini/ persepsi/ penafsiran/ interpretasi dari diri kita sendiri akan hal tersebut!

Yang membuat kita marah, sedih, jengkel, itu karena penafsiran kita yang dipengaruhi pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami.

WhatsApp Image 2019-02-01 at 7.39.16 AM

Ada satu hal yang menjadi dasar filosofi teras sendiri, dan sering diulang ulang oleh penulis pada bukunya.

Adalah tentang Dikotomi Kendali (2 Kategori Kendali)

  • Kategori pertama adalah tentang hal-hal yang dapat kita dikontrol. Yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan kita.
  • Kategori kedua adalah tentang hal-hal yang tidak dapat kita kontrol, hal-hal selain dari kategori pertama. Seperti kesehatan, kekayaan, sikap orang lain terhadap kita.

Atau seperti kemacetan tadi. Kemacetan adalah realita, kenyataan yang terjadi saat itu. Persepsi kita yang membuat itu jadi menjengkelkan, dan membuat kita jadi marah-marah.

Lho kok bisa?

Ya, karena kemacetan tersebut diluar kendali kita.

Yang bisa kita kendalikan adalah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita.

Penulis mencontohkan. Daripada sambat dengan macet tersebut yang bahkan dengan marah, kemacetan tadi juga tidak segera terurai.

Penulis lebih memikirkan bahwa dengan kemacetan itu dia jadi bisa berlama-lama ngobrol dengan istrinya.

Filosofi ini mengajarkan kita untuk tetap rasional.

Respon sambat dan marah-marah merupakan respon otomatis, ini tidak rasional. Tidak dipikir, tidak dinalar.

Coba kalo dipikir, ngapain juga marah-marah? Marah-marah tadi tidak menyelesaikan masalah. Tidak membuat macet tadi jadi lalu lintas yang lancar. Terus tidak juga bikin kita sampai di kantor tepat waktu.

Karena itu penulis tadi lebih memilih untuk memanfaatkan realita tersebut, daripada sambat. Dan menjadikan momen tersebut untuk bisa bercengkrama lebih dengan istrinya.

Lebih baik mikir solusi biar macet ini gak jadi hal yang sia-sia, atau kita dapat mencari sisi positif dari hal tersebut.


Terus apa hubungannya dengan Mental Tangguh?

Dengan men-challenge respon otomatismu ketika kamu merasa sedih/marah/kesal, kamu tidak reaktif dengan keadaan yang sedang terjadi. Jadi lebih bisa melihat secara objektif dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal eksternal semacam itu.

Ngomong tok! Gampang!

Nah maka dari itu coba dipraktekkan, biar hatimu bisa jadi lebih tentram 🙂

Masih banyak contoh, dan cara untuk mempraktekkan Stosisme dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak yang bisa dijelaskan dari Filosofi Teras, akan aku ceritakan lagi di lain artikel.

Untuk artikel ini, (semoga) minimal kalian memahami tentang Dikotomi Kendali, karena itu dasarnya.

Referensi Lain Seputar Filsafat Stoisisme

fb30a72210b96fed0574d82cf2edaa19

#SalamWaras 🧠

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

10 Comments

  1. Ranggi Ramadhan on 1 February 2019 at 08:10

    Insight bagus!

    Join klub dong, saya siap satu buku satu review dalam sebulan

  2. Yolanda Krisnadita on 8 February 2019 at 13:52

    Weheheheh muupkan baru baca insightnya Salam Waras juga!!.. Punyaku apa tak tulis ulang disini aja kalik yaaa Huwhehehehehe

  3. Amira Rudi on 21 February 2019 at 10:09

    kalo dipikir pikir bener juga selama ini misal marah marah di jalan juga akibat persepsi dan penilaian pribadi. Semoga suatu saat bisa ikutan club juga yaa, sekarang masih belum siap nih whwhwhw

    • Syahrul Munir on 28 February 2019 at 21:32

      Ho..oh.. marah bentar gpp lah, kadang kebiasaan reflek.. cuma yang gak boleh kalo marahnya berlarut-larut.. soale nanti malah ganggu aktivitas dan seharian jadi cemberut..

      Silahkan join club.. btw Ami belum siap kenapose?

  4. Ilham Akbar on 1 March 2019 at 11:02

    aku sendiri sedang belajar memanage emosi seperti yang sampean sampaikan mas. mencoba berpikir rasional. tidak langsung ambil tindakan. kalau ada teman yang menjengkelkan. gak langsung marah. dipikir dulu kira kira apa ya yang buat dia menjengkelkan?

    tapi sampai suatu saat aku kesel dewe. mosok iyo ate marah ae kudu diredam terus dan akhire kependem? hahaha coba tanggapi pertanyaanku iku mas

  5. […] pertanyaan dari Akbar, di kolom komentar artikel ulasan buku Filosofi Teras. Yang sekaligus jadi lanjutan untuk tulisan […]

  6. […] kedua setelah Filosofi Teras untuk […]

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Scroll To Top