Skip to content

BEDAH BUKU

Menjadi tukang kebun ?

by Ranggi Ramadhan

Brand Gardener - Handoko Hendroyono

Halo reks! Jangan tertipu dengan judul, Kali ini buku yang sudah saya baca dan mau saya bagikan insight temanya buka tentang cara berkebun, melainkan mengenai advertising dan marketing, ditulis dalam bentuk storrytelling didalam buku ini terdapat 30an cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman yang didapat oleh pak Handoko.

Saya akan bagikan beberapa cerita yang menurut saya menarik

Cerita tentang komunitas kertas

Penulis pernah mendapat kesempatan untuk bertemu komunitas pecinta kertas, sebuah komunitas yang menggunakan kertas bekas untuk membuat atau membentuk karakter karakter seni kontemporer yang baru.

Yang menarik adalah anggota komunitas ini masih sangat muda, mereka menciptakan youth culture. Mereka adalah anak anak dari era digital yang menggerakkan energi positif, cinta lingkungan, kreatif, saling peduli, dan tentu saja pintar.

Dari pengalaman dilapangan beliau berada diposisi terpana, wow, terenyak atau sekedar berekspresi “Gila!”.

Insight, insight, dan insight adalah kuncinya. Bagaimana kita membaca yang tak terlihat, tapi sebenarnya ada dan kita bisa rasakan.

 

Cerita tentang iklan Aqua

Ada sebuah kampanye aqua yang menurut saya bisa disebut legend. Program 1 Liter untuk 10 liter melalui sebuah iklan 60 detik yang isinya :

 

“Sekarang sumber air su dekat,

Beta sonde pernah terlambat lagi.

Lebih mudah bantu Mama ambil air untuk mandi adik.

Karena mudah ambil air katong bisa hidup sehat.

Bapak ikut urus air dong Bapak desa.”

Beberapa hari berselang setelah iklan tersebut terjadi percakapan simpel antara dua wanita di sebuah warung makan :

Pelayan : Pesan minum apa kak ?

Wanita A : Aku es jeruk, kamu ? (Sambil noleh ke wanita B)

Wanita B :  Hmm, aku... (melihat ada botol aqua) ini ajadeh, itung itung ikut bantu adik adik di pedalaman.

Wanita A : Haaah ?

Wanita B : Kan 1 liter untuk 10 liter air.

Wanita A : Eh mas aku ganti aqua juga deh, es jeruknya gak jadi.

Pelayan : Baik, saya ulangi pesanannya bla bla bla bla

Sampai begitunya ternyata, karena storry telling yang kuat, dan orisinil. Mempengaruhi psikologi kita sebagai audience dan meningkatkan awareness dengan membeli aqua kita membantu saudara kita dipedalaman yang kesulitan air.

 

Dari kedua cerita itu saya menangkap sesuatu :

Pertama mengenai tren, tren yang terjadi di sekitar dan apa yang kaum milennial mampu lakukan. Yang mungkin bisa kita tangkap dan bisa dimanfaatkan untuk kebaikan.

Kedua, Be real. Tell the truth. Tidak perlu membuat iklan yang mengada-ada untuk membujuk orang membeli produk kita. Sentuh menggunakan cerita, jika itu baik maka akan mudah menyebar dari mulut ke mulut.

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

9 Comments

  1. Ilham Akbar on 1 March 2019 at 10:47

    “Be real. Tell the truth” selalu mengingatkan untuk jujur. mantab maturnuwun cak

  2. Sonia Cynthia on 3 March 2019 at 14:37

    Dari sisi brandnya jg pintar membangun awarness konsumen, impactnya sm kyk gini mas kalo ads orang mau beli air putih di warung apapun merknya pasti mereka sebut “mas beli aq*a” tp yg dikasih sm penjual merk cl*b misalnya😂

    • Ranggi Ramadhan on 4 March 2019 at 11:17

      Benar son 😀 . Brand yang dipupuk dari awal ditanam sampai tumbuh berkembang menjadi brand yang besar. Air minum ya Aqua

  3. Yolanda Krisnadita on 4 March 2019 at 16:20

    Ikuti Tren “Be real. Tell the truth” Untuk menanam Branding.

  4. Hendry Yoga Priyanto on 12 March 2019 at 00:18

    Beberapa kali saya pernah mendapati di facebook. Mereka bercerita suatu hal dalam hidup mereka yang sangat berpengaruh. Diperkenalkan konflik batin, lalu klimaks dengan sebuah kesuksesan yang didalamnya dibumbui marketing product yang lagi dijualnya.
    Ternyata yang biasanya saya sering malas baca status2 yang berseliweran, tapi saya malah membaca status marketing teman saya sekalipun itu sangat panjang. seakan terlena.
    Storytelling menurut saya juga cocok untuk target market generasi milenial dimana menurut riset generasi milenial lebih condong ke kegiatan sosial

  5. Syahrul Munir on 25 April 2019 at 22:47

    “Mengenai tren…” Jadi ingat trending Youtube yang kebanyakan….. ahsudahlah.. 🤦‍♂️

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Scroll To Top