Yap, sudah beberapa minggu yang lalu (saya lupa kapan tepatnya hehehe) di PT. Beon  ada Sharing Session mengenai terapi "Fast Breathing & Screaming" yang sukses bikin suara saya abis dan plong banget. Ada fakta yang mencengangkan yang mungkin tidak mencengangkan :

Tenyata teriak itu bikin plong beneran, kalau KITA TAU cara teriaknya.

Ini serius gaes, bukan asal teriak aja, tapi kita harus paham dulu caranya gimana :") . NAH, di sharing session kemarin, Mas Bagia sharing tentang find your purpose, yang disitu juga diajarin bagaimana kita mengolah emosi kita. INGAT! Mengelola emosi, bukan mengkontrol emosi. Yang Saya tangkap, perbedaan dari mengelola emosi dan mengkontrol emosi adalah kalau mengkontrol, kita cenderung menyembunyikan dan melupakan emosi itu. Kalau emosi positif, mungkin itu baik. Nah kalau negatif? gimana dong?

Balik lagi nih, ke teori gunung esnya si Pak Sigmund Freud (Doi dijuluki sebagai Bapak psikologi dunia) yang menjelaskan kurang lebih seperti ini :

Screen Shot 2018-11-30 at 12.57.03

Nah, dari gambar tersebut, bisa kita liat ada 3 bagian gunung ES :

  1. Couscious Mind (10%): Informasi dari diri dan lingkungan kita yang kita sadari/ berada dalam alam sadar kita.
  2. Subconcious Mind (50-60%): Informasi dari diri kita bahwa kita tidak sedang memikirkan (di tingkat sadar kita), tetapi bisa terpikirkan
  3. The Unconscious Mind (30%): Peristiwa dan perasaan yang kita temukan namun tidak dapat diterima oleh pikiran sadar kita.
giphy.gif

HANYA 10% GAES, pikiran sadar yang kita pakai sehari-hari, sisanya tinggal yang bawah sadar dan tidak sadar. Dan yang paling mendominasi adalah pikiran bawah sadar kita, dimana hal yang paling berpengaruh disitu adalah emosi, pengalaman, memori-memori baik atau buruk kita, dan yang lainnya.

Bayangkan kalau kita MENGKONTROL emosi yang kita miliki terus (buka mengelolanya), bisa-bisa gunung es dalam diri kita akan cenderung membeku kebawah (karena emosi buruknya pada numpuk) dan BISA JADI, gunung es itu tenggelam atau hancur, enggak tau kapan. NAH, ini bisa disebut sebagai bom waktu, yang kebanyakan membuat situasi jadi enggak baik. Kalau mengelola, kita ga serta merta harus meledak-ledak ( marah yang langsung nyembur ngebalikin meja jumping kanan kiri salto muter2 100kali padahal kita lagi diliatin bos kita wagelaseh banget khan) pada saat kita marah, yang jelas kita harus tau cara menyelesaikan emosi itu.

Balique ke sharing session, ada satu sesi (sesi yang paling "ngena") *ciyeee ngena, dimana kita disuruh mengingat masa kecil kita, disana kita harus membayangkan bahwa kita harus berterima kasih dengan masa kecil kita, karena sudah berjuang sampai saat ini. OTOMATIS DONG, nangis senangis-nangisnya. Seolah-olah Saya memang belum benar-benar berdamai dengan masa lalu Saya, atas semua masalah yang pernah terjadi dalam hidup saya. Di sesi itu saya belajar bahwa menerima adalah sesuatu hal yang sangat sulit, dan seharusnya kita juga belajar pelan-pelan menerima apa yang terjadi dalam diri kita. Kita juga harus bisa menghargai kita sendiri gaes, atas apa yang kita sudah lakukan selama ini (terus kemaren-kemaren ngapain fir? ahahaha)

Flashback lagi Gaes, PASTI banyak banget hal udah kita lalui, enggak memungkiri hal-hal yang enggak mengenakan PASTI juga keinget. Semua pasti punya masalah sendiri, yang dilewati sendiri. Kalau kata mas Mark Manson di bukunya yang berjudul "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat" (bukunya bagus gaes) yang berbunyi :

Disini bisa disimpulkan kalau masalah selalu ditakdirkan ADA dalam hidup kita. Maka dari itu, sebelum kita melangkah ke permasalahan yang lain, sebaiknya kita menyelesaikan dulu permasalahan-permasalahan yang masih terjadi. SUMPAH, INI SEPELE tapi bener-bener harus dilakoni dengan seharusnya.

Ngomong-ngomong soal masalah, di Teori Terapi Kognitif  (Aaron T. Beck) menghipotesiskan bahwa cara berpikir negatif tertentu meningkatkan kecenderungan seseorang mengembangkan dan memelihara depresi ketika ia mengalami peristiwa hidup yang menekan (McGinn, 2000). Oleh karena itu mengubah cara berpikir menjadi lebih adaptif merupakan salah satu alternatif untuk menurunkan kecenderungan depresi.

Seseorang yang merasa paling banyak masalah, BISA JADI adalah orang yang kurang bisa mem-solving-kan problemnya. Nah maka dari itu, dari belajar menghadapi masalah (bukan menutupi atau melupakan, bahkan melampiaskan ke hal yang lain), maka kita dapat melatih skill problem solving kita.

Lah terus, kenapa dong bahas memecahkan masalah? Karena itu adalah salah satu cara untuk berdamai. YA, BERDAMAI dengan masa lalu, masalah-masalah kita yang sudah terjadi di masa lalu yang BELUM SEMPAT kita olah, dan yang malah kita lupakan (sehingga muncul lagi saat ini, jangan heran kalau kamu selalu merasa capek akan sesuatu hehehe). Kadang kita takut, kadang kita ragu, seperti apa ketika kita mencoba memecahkan masalah yang sedang kita hadapi, sebesar apa masalah yang kita hadapi. Tapi harus tau dulu, sebenernya apa sih yang bikin kita terlihat seolah-olah masalah selalu ada aja dan ga akan pernah selesai. Dan masalah itu ada yang berasal dari kita sendiri, dari orang lain, yang kalo boleh dibilang “ngapain juga kita ikutan nyelesein, yang bikin masalah siapa, yang tanggung jawab siapa”.  Inget-ingeten kata-katanya mas Mark Manson lagi gaes :

Tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab atas keadaan kita kecuali Kita sendiri.

Yaiyalaah, lalu? Yaudah, ya kalo kita kita punya masalah jangan dilupain muluk, ya dihadepin beb :')

giphy.gif

Cara pertama untuk mengahadapi semua masalah itu adalah : MENERIMA.

Enggak munafik juga apabila kita ada masalah kita seringnya denial, playing victim (merasa menjadi korban), menyalahkan, displacement. Itu semua adalah bentuk penolakan dari dalam diri kita, karena kita merasa SEHARUSNYA masalah ini bukan kita yang menanggung, bukan kita "biang keladinya". Akhirnya, penerimaan terhadap masalah kita, menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan, karena didukung juga oleh stereotype di lingkungan sosial kita bahwa ketika kita membuat masalah, maka kita akan menjadi orang TERBURUK yang pernah ada di dunia ini. Padahal ya enggak gitu juga kalee :")

Setelah kita bisa menerima, pasti akan ada cara untuk melewati semua masalah itu. Malah kita bisa melatih keberanian kita, kepercayaan diri kita, dan yang pasti penerimaan diri kita akan lebih meningkat (sesungguhnya menjadi diri kita sendiri itu berasal dari penerimaan diri kita gaes).

Yah pada intinya, apabila kita ingin melangkah lebih jauh lagi untuk menggapai semua kebahagiaan kita, kita harus menuntaskan semua permasalahan di masa lalu. Yuk, kita berdamai terhadap masa lalu dulu!

 

P.S. : Thanks to PT Beon Intermedia yang sudah menghadirkan Mas Bagia ke Sharing Session Kemarin 🙂

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!