NGOPI - Ngobrol Psikologi

[NGOPI (Ngobrol Psikologi) sama Fira] Mengenal Lebih dalam soal Toxic Positivity

by Fira Aditya

Ilustrasi Lagi di Semangatin Temen

Siapa sih yang engga suka kalo mendapatkan kata-kata motivasi positif dari temen, orang tua, saudara, ataupun orang yang spesial banget buat kita. Dengan motivasi positif dari mereka, bisa jadi kita bisa semakin kuat .... atau malah bikin kita lama-lama down. LHO, KOK DOWN?


Disaat pikiran kita dikerumuni oleh perasaan gelisah, kegelisahan tersebut akan menimbulkan kecemasan dan yang pasti banyak pikiran negatif juga ikutan berkumpul disana. Setelah semua hal negatif tersebut berkumpul jadi satu, MUNCULAH malaikat dalam pikiran yang bernama "harapan", dimana dia membuat kita berpikir "TETAP ada satu harapan yang saya punya - Saya akan berhasil ketika mencoba ini". Harapan itu di definisikan oleh pikiran kita sendiri, bahwa kita tidak seburuk itu menjadi seorang manusia. Dan dari harapan itulah, yang sampai saat ini bisa membuat hampir dari kita semua bertahan.

Namun, disaat harapan itu muncul, ada sesuatu hal yang dirasa tidak sejalan disana. Ya, itu adalah intuisi. 

"Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan di luar kesadaran."
- By Wikipedia

Intuisi negatif akan muncul juga jika terjadi kegelisahan dan kecemasan dalam diri kita. Namun harapan mencoba membuat itu semua nampak positif. Dan bentuk harapan itu terkadang tidak hanya datang dari kita sendiri, melainkan juga dari orang-orang terdekat di sekitar kita. Harapan bukan sesuatu yang tidak baik disini, tapi harapan dapat muncul dari ucapan motivasi positif. INGAT! Motivasi positif itu TIDAK SELALU menjadi cara yang terbaik untuk membantu  orang lain dan kita sendiri. 

Karena,di setiap pikiran kita yang sedang dalam kondisi gelisah atau cemas, disanalah juga ada peristiwa dimana kita MENCARI VALIDASI bahwa perasaan negatif yang kita alami adalah hal yang baik-baik saja. Dan, kebanyakan ketika peristiwa itu terjadi, orang lain malah tidak fokus ke validasi tersebut, malah memberi motivasi-motivasi ataupun semangat yang terkesan kurang logis dan tidak memvalidasi perasan negatif yang kita rasakan. Iya, jadinya ngambang kayak hubunganmu dengan doi *apa an wkwk. Itulah yang bisa disebut dengan “TOXIC POSITIVITY”.

Selain itu, ketika seseorang tidak biasa menerima tentang HAL NEGATIF yang dia rasakan di dalam dirinya, seseorang tersebut akan cenderung menjadi MERASA TIDAK AMAN dalam mengekspresikan perasaan negatif yang dirasakannya, dan bayangin kalo perasaan negatif itu tumbuh dalam ruangan yang tertutup (liat artikel soal gunung es di artikel ngopi sebelumnya). Dan jangan heran kalau banyak banget orang yang merasa ADA YANG SALAH di dalam dirinya. Jangan-jangan kita lagi yang membuat dia mikir kayak begitu?hehehehe.

Ketika temen kamu lagi sedih, terus dia mikir kayak begini. Kasihan kan? 🙁

Di sini, mari kita inget lagi guys soal 2 hal, empati dan simpati. Kita analogikan seperti ini :

GambarArtikel-03
Ilustrasi Perbedaan Simpati, Empati, serta Menghianati... 😀

Ketika ada seseorang terjebak dan masuk ke dalam lubang, seseorang yang BERSIMPATI HANYA akan meneriaki seseorang yang masuk ke dalam lubang tersebut. Nah, Kalau orang yang BEREMPATI, akan ikutan masuk ke dalam lubang juga, dan mencoba untuk membantunya keluar dari lubang itu.

Sama seperti ketika kerabat kita sedang mempunyai masalah dan dalam kondisi yang sejatuh-jatuhnya, dimana doi pasti merasa gelisah dan cemas. Apabila kita HANYA memberi mereka cara menyikapi masalahnya tersebut dengan "melihat sisi positifnya" maka kita sama saja membuat mereka berbohong atas pikiran negatifnya. Kita membantu menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada mereka dengan mengatakan "mereka baik-baik saja".

Apakah menurut kalian itu akan menjadi lebih baik?

Balik lagi ke analogi sebelumnya, kita dapat membantu mereka dengan mendukung MENERIMA PERASAAN MEREKA APA ADANYA. Itulah cara berempati yang sebenarnya, kita memberi dukungan dengan menempatkan diri menjadi di posisi mereka.

KITA GA HANYA BAHAGIA DENGAN RASA "BANGGA", NAMUN KITA JUGA BISA BAHAGIA DENGAN RASA "MALU" YANG PERNAH KITA RASAKAN.

By Saya Sendiri

Jadi, pada saat kita menginginkan bunga yang kita tanam bertumbuh dengan baik, bukan hanya dengan "membisikkan atau meneriakkan kata-kata tumbuhlah dengan baik" pada bunga tersebut, tapi siramilah. Sama seperti teman/partner yang sedang mengalami kondisi negatif dalam dirinya. Dukunglah mereka agar dapat menemukan jalan keluar mereka sendiri.

Dengan menempatkan diri di posisi mereka dan menerima perasaan mereka, kita secara tidak langsung membuat mereka akan terlatih jujur dengan perasaan mereka sendiri dan mereka mulai berpikir untuk mencari jalan terbaik bagi mereka sendiri, bukan sekedar HANYA MEMBUATNYA BERTAHAN dari sesuatu yang terlihat seolah POSITIF. Karena kenyataannya, HAL NEGATIF juga harus kita ketahui dan kita terima apabila memang itu terjadi pada kita. 


Disini Saya menekankan rek, kalau SANGAT BOLEH DAN SANGAT PERLU meluapkan hal negatif, karena di stereotype kehidupan bermasyarakat kita itu seolah-olah ga boleh menampakkan HAL YANG NEGATIF (Seolah-olah jelek banget gitu kita dimata netizen kalo kita udah ketahuan belangnya). Kenapa sih? Karena tidak ada manusia yang sempurna, istilahnya "Wes pasti tau nggawe salah" iya kan? Emang Situ Malaikat selalu benar? Atau situ Cewek soalnya selalu bener? #EYAAAA

Ngempet itu tidak enak, Saya benar-benar merasakan rasanya emosi negatif yang terpendam akan MEMICU PENYAKIT FISIK dan kita menjadi sakit. TAPI, ketika kita meluapkan hal negatif, ya masa' pas kita dimarahin bos atau dimarahin ortu atau dihadapan pelanggan, kita langsung meluapkan kekesalan kita di depannya? Intinya adalah, Luapkan di waktu yang pas (kyk teriak-teriak di terapinya mas bagya dulu, atau yang lain) 🙂

Terus ini gaes, tak kasih contohnya perbedaan berempati (Validation and Hope) & Hanya Bersimpati (Toxic positivity)

 

Note : MARKIDIS (Mari Kita Diskusi) Di kolom komentar di bawah mengenai pengalaman kamu ngempet-ngempet sampai akhirnya ngerasa kalo sesuatu yg diempet terus bisa bikin stress 🙁 atau boleh menanggapi yang lain juga 😀

_

Semoga artikel ini bisa bantu kalian yak, tunggu sesi NGOPI bareng Fira selanjutnya! Oh iya gaes, karena Saya sangat antusias sekali dengan issue "Mental Health" disekitar kita, kalian bisa request artikel ngopi soal itu, atau kalian bisa liat-liat story IG Saya apabila lagi ngebahas itu 🙂 JANGAN LUPA FALLAW IG : FIRODITYO

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

14 Comments

  1. Yolanda Krisnadita on 22 March 2019 at 08:41

    ini dulu aku banget mbak cip, Ngempetan dan merasa seolah-olah semuanya “BISA” Aku atasin sendiri. selain itu juga karena dulu aku merasa aku adalah “cowok” dan anak pertama ostomatis tengsin kalo nangis ketika ada masalah di depan keluargaku. DI tambah lagi dulu waktu aku kecil ketika nangis itu mesti di ilokno “Yeeeeekkkk nangisan, gembengan iki kah” kayak gitu jadinya ngempet2 terus dampaknya jadi kalo marah gitu meledak-ledak kayak bom.

    Puji Tuhan uda mulai di kurang-kurangin deh ngempet2 gitu.. Sekarang jadi lebih neriman dan legowo.. Hhiihihihih jadi paham juga menjadi positif yang berlebihan itu juga kurang baik. Intine Semua yang berlebihan itu enggak baik sih hihihihihihi..

    • Fira Aditya on 25 March 2019 at 11:49

      Terimakasih sudah mau share kisah “Kengempetan yg haqiqi” mbak :”) Alhamdulillah, sekarang udah dikurang-kurangin. NAH BENER BANGET, sesuatu yang berlebihan itu juga ada enggak baiknya, mantab betul!

  2. Putri Juwita Shinta Dewi on 23 March 2019 at 19:44

    yeshh.. Ngopi bareng Fira muncul lagi..
    sering2 update sist..
    banyak prespektif baru yang muncul dari sisi keilmuan psikologi tentang bagaimana berperilaku dengan sesama.

    Ntar adik2ku kalau udah berumah tangga dan bersosial dengan masyarakat sekitar, bakalan ketemu case2 yang unik2.. yang bakal menantang EQ, simpati, empati..
    Prespektif2 yang dijabarkan oleh Fira, kurang lebih dibutuhkan untuk siap di masyarakat.

    Mancap bu cip

    • Fira Aditya on 25 March 2019 at 11:53

      Semoga bisa istiqomah update mba :”) hehehe

      Terimakasih sudah diberi SPOILER soal kehidupan berumah tangga mba :)) Semoga artikel ini bisa membantu semua orang dengan berbagai status hahaha :))

  3. Fitra Ardina on 24 March 2019 at 09:17

    kadang mbak cip aku tuh kalo ada orang curhat/cerita permasalahan yg dia alami bingung harus menanggapi seperti apa,
    mau ngomong takut jd toxic kaya gini, ga ngomong nanti dikata ga peduli,
    soalnya memposisikan diri sebagai org tsb lumayan sulit menurutku, karna udah bayangin aku di posisi dia dan malah ikut gatau kudu ngapain juga wkwk 🙁
    ada saran ga mbak cip

    • Fitra Ardina on 24 March 2019 at 09:20

      ending endingnya cuma bisa bilang “aku gaiso ngomong opo2 aku juga gak ngerti kudu yopo. tapi lek awamu butuh, aku onok” 🙁

      • Fira Aditya on 25 March 2019 at 11:58

        Terkadang orang cerita ke kita itu, bukan karena mereka pengen minta solusi. Tapi sekedar pengen meluapkan dan meminta validasi dari kita. Mereka percaya sama kita, karena jadi pendengar itu seru *lek katanya mas Gondez :”)

        Apalagi memposisikan sebagai mereka yg mengalami problem, pasti sangat sulit. Kalo menurutku udah oke si Ran , dengan kata-kata “aku gaiso ngomong opo2 aku juga gak ngerti kudu yopo. tapi lek awamu butuh, aku onok” disini udah menunjukkan kalo dari sisi kamu udah ada dukungan 😀

        • Fitra Ardina on 29 March 2019 at 13:26

          wkwk betul mbaak
          lebih harus menjaga ucapan kalo ada orang yg lagi galau sakit atu dsb
          kalo salah ngomong malah amburadul nanti :v
          terimakasih mbak cip<3

  4. Ranggi Ramadhan on 25 March 2019 at 09:58

    Mantap! Jadi dapat perspektif lain mengenai nriman terhadap sesuatu yang membuat kita down, lalu berusaha mencari jalan keluarnya.

    Setelah selesai baca ini ternyata seringnya aku jadi teman yang Toxic Positivity , kudu bebenah nih. 😆

    Terimakasih sharingnya Fira

    • Fira Aditya on 25 March 2019 at 12:02

      Sama2 mas!

      Btw Saya juga Teman toxic positivity kok mas :)) jadi mulai ngurang2in. Terkadang dengan kita ngmng “westalah semangat ae” juga bisa di artikan doi “Aku udah semangat, tapi seolah2 kamu mengejudge aku ga semangat” 🙁 yang penting sama2 dukung biar doi bisa cari jalan keluar sendiri hwehe

  5. Sonia Cynthia Elchitian on 28 March 2019 at 13:39

    jujur mbak kukira simpati sm empati itu sama ternyata dari penjelasan sm gambar ilustrasi mbakcip aku jadi tau ternyata berbeda atau simpati dan empati itu, di empati ada action yg dilakukan, terimakasih atas infonya mbak cippp <3

  6. Syahrul Munir on 10 June 2019 at 13:34

    Hai teman toxic 🙂

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.