INSIGHT & OUTSIGHT

Regulasi Emosi untuk Menghadapi Emosi Sehari Hari

by Syahrul Munir

Menjawab pertanyaan Mbak Fitra Ardina. Di kolom komentar artikel "Ketika Marah Sudah Sampai di Ubun"

Kadang aku pernah mikir untuk nggak emosi dan dialihkan ke hal lain atau dengan cara2 diatas, tapi kadang masih suka kepikiran dengan sharing session kapan lalu tentang pengendalian emosi. Bapaknya blg “tidak semua emosi harus dihilangkan, kalau terpendam terus menerus akan menjadi penyakit dalam tubuh”karena menurutku cara diatas itu sekilas seperti hanya untuk mengalihkan perhatian/melupakan emosinya saja tanpa menyelesaikan emosi itu sendiri.jadi bingung…mohon pencerahan kakak 🙁


Coba dibahas dari, pernyataan pertama yang perlu digaris bawahi.

"tidak semua emosi harus dihilangkan"

Tunggu sebentar! Coba dicari sebenarnya apa itu emosi.

emosi adalah

Kalo emosi bahagia; senang, cinta, kenapa juga harus dihilangkan?

Kalo yang Mbak Rana maksud adalah emosi seperti marah, jengkel, sedih.. ya kan baiknya tidak dipendam terus-terusan.

Dan benar, soalnya nanti itu bakal jadi penyakit. Emosi yang seperti itu jadi pemicu hormon-hormon stress secara berlebihan. Yang menekan sistem kekebalan tubuh, terus bikin orang jadi sakit deh!

Artikel ini masuk ke dalam bahasan stoisisme, bisa kalian baca selebihnya di bawah ini:


"Itu menjelaskan kenapa orang yang stress bisa tiba-tiba bisa sakit! Karena marah, jengkel, dan emosi sejenisnya dapat menghasilkan hormon yang tidak baik, yang menyebabkan penyakit."

Kemudian pernyataan kedua yang saya coba garis bawahi adalah:

"Sekilas seperti hanya untuk mengalihkan perhatian/melupakan emosinya saja tanpa menyelesaikan emosi itu sendiri?"


Dalam beberapa kasus memang lebih mudah untuk melalukan "emosi" yang sekiranya ringan:

  • Pak Gojek salah membawakan pesanan.
  • Antrian panjang yang bikin habis kesabaran.
  • Kerjaan hilang karena listrik mati yang bikin jantungan.

Tapi kalo ada pengalaman yang agak membekas terus bikin trauma, ya gak bisa juga langsung seketika hilang dan selesai begitu saja.

Mengulang lagi tentang sikap dasar Stoisisme "Setiap kejadian adalah nilainya netral, tidak baik atau buruk. Persepsi atau opini kita akan hal tersebutlah yang membuatnya punya nilai."


Tidak sekedar mengalihkan perhatian/melupakan.

Bisa cek lagi tulisan NGOPI nya Mbak Fira.

Perumpamaannya! Kalo kita punya kerjaan, ya kudu diselesaikan. Tidak malah dilupakan. Nanti kerjaannya jadi tambah numpuk, terus malah gak ada yang diselesaikan.

Btw, perlu saya tegaskan.
* Saya tidak tahu pasti emosi yang dihadapi Mbak Rana tersebut.

Cuman saya bahas secara garis besarnya.

beck_aaron.jpg__350x350_q85_crop_subsampling-2_upscale

Mengutip dari artikel NGOPI tersebut.


"Cara berpikir negatif tertentu meningkatkan kecenderungan seseorang mengembangkan dan memelihara depresi ketika ia mengalami peristiwa hidup yang menekan (McGinn, 2000). Oleh karena itu mengubah cara berpikir menjadi lebih adaptif merupakan salah satu alternatif untuk menurunkan kecenderungan depresi"

Teori Terapi Kognitif  (Aaron T. Beck) 

Untuk merubah pandangan/cara berfikir akan sesuatu, salah satunya dengan cara memberi makna yang berbeda pada sebuah kejadian.

Ada 2 macam kecenderungan orang dalam meregulasi emosi:

  • Reappraisal
  • Suppression

Hasil kuisioner dari University of Central Florida tentang Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Menunjukkan salah satu dari dua cara tersebut memiliki hasil yang lebih baik, dalam hal strategi ketika berhadapan dengan "emosi".


Reappraisal (penilaian kembali)

Adalah sebuah cara untuk reframing (membingkai ulang) sebuah kejadian, dalam rangka mengubah dampak emosinal. Menceritakan ulang sebuah kejadian dengan narasi yang berbeda.

Contoh: Kamu dapat lebih memikirkan, bahwa berbicara di depan umum (misal, sharing session) adalah sebuah kesempatan untuk berbagi ide. Daripada memikirkan bahwa hal tersebut sebuah momen mengerikan, di mana orang lain bakal menertawakan jika sewaktu-waktu salah ketika penampilan.

Dalam hati: "Tidak semudah itu ferguso!" x "Tidak mudah, Bukan berarti tidak mungkin ya kan!"


Suppression (penindasan)

Adalah sebuah cara untuk menindas/menimpa emosi yang dirasakan dengan mengalihkannya ke hal yang lain. Berharap emosi tersebut dapat dilupakannya.

Contoh: Mungkin ada seseorang yang sedang patah hari karena putus dengan pacarnya. Terus dia minum-minum dalam rangka untuk agar dirinya tidak kepikiran dengan perasaan sedih akibat kejadian tersebut.


Jika dilihat dari penggunaan strateginya sendiri. Reappraisal digunakan sebelum kejadian. Sedangkan strategi Suppression digunakan setelah kejadian.

Dalam penelitiannya mengatakan bahwa Reappraisal jauh lebih baik daripada strategi Suppression. Harusnya tampak jelas dari contoh yang diberikan. Karena Suppression hanya berusaha untuk melupakan tanpa ada solusi penyelesaian.

Kemudian untuk mengetahui kecenderungan saya, akhirnya coba ambil sendiri test tersebut. Dan ini dia hasilnya:
regulasi-emosi-MSM

Cara baca penilaiannya, begini:

  • Semakin tinggi nilai Reappraisal makin baik
  • Dan sebaliknya, Semakin rendah nilai Suppresion makan makin baik.

Kamu bisa coba sendiri testnya dengan klik link ini

Coba jujur! Jangan karena habis baca artikel ini terus kamu milih jawaban yang cenderung Reappraisal, biar keliatan baik. Hehe..


Btw, saya juga kadang masih overthinking, lebih banyak memendamnya. Melelahkan sekali rasanya, tapi namanya juga proses belajar.

Karena dari hasil penelitian tersebut, memang lebih banyak laki-laki yang menggunakan strategi Suppression. (Tapi jangan jadi denial ya..!)

Lebih banyak memendam, tanpa merasa dia perlu bantuan untuk mensolusikan. Dengan stereotip yang pada umumnya, bahwa laki-laki harus kuat tidak boleh cengeng. Kalo cengeng nanti keliatan lemah!

Tapi bukan tidak mungkin dipelajari. Ini hanya sebuah skill, semakin diasah semakin mahir!

Ya itulah kecenderungan manusia, lebih bisa ngasih saran buat orang lain, ngasih motivasi ke orang lain. Daripada untuk dirinya sendiri, heuheu.

Semoga yang sedikit ini dapat nambah pandangan.


Kasih komentar lagi, biar makin seru diskusinya 🙂

Quotefancy-1700179-3840x2160

Referensi Mas Syah dalam menulis artikel ini:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Emosi
  • https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-emosi.html
  • http://sciences.ucf.edu/psychology/myemotions-hxus/
  • https://curiosity.com/topics/the-emotion-regulation-questionnaire-measures-how-well-you-deal-with-your-emotions-curiosity/

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

8 Comments

  1. Putri Juwita Shinta Dewi on 19 March 2019 at 08:20

    Keren anak ini 🙂
    pertanyaanku kepada mas syahrul, kenapa mas syahrul sangat interest untuk mempelajari terkait dengan emosi di manusia? apa yang mas syahrul ingin dapatkan dari memahami semua itu?

    • Syahrul Munir on 22 March 2019 at 07:19

      Makasih sebelumnya, Mbak Putri 🙂

      Menjawab pertanyaannya sampean..

      Sebenarnya kalo di chunk-up, dari emosi akan mengarah ke manusianya itu sendiri.

      Jadi lebih tepatnya ketertarikan kepada bahasan manusia dan relasinya.

      Untuk apanya, kurang-lebih Mbak..

      Dalam perjalanannya, sekurang kurangnya jadi sekedar “tahu” diri sendiri dulu. Nanti kalo sampai di tingkat “paham” jadi nilai lebihnya.

  2. Fitra Ardina on 19 March 2019 at 12:06

    sumpah ganyangka pertanyaanku bisa dijawab dengan dibuatkan artikel baru 😀
    terimakasih mas syah, next akan kucoba link test yang ada diatas.
    semoga dengan jawaban kamu ini, aku jd bisa lebih paham tentang masalah dan solusi “emosi” pada diri sendiri ya mas Syah, terimakasih banyaaakk 😀

  3. Yolanda Krisnadita on 22 March 2019 at 10:19

    Kamu adalah Panutanku dalam Menulis dan belajar

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.