Skip to content

BEDAH BUKU

Thinking Fast and Slow

by Ranggi Ramadhan

 

Tanpa terasa ini buku kelima yang berhasil saya selesaikan dan dibikin insight yang didapat, terimakasih untuk saya sendiri yang sudah niat dan kepada grup #BacaBikinHebat yang sudah ada dan hadir untuk saling menyemangati.

Dari buku ini saya belajar bahwa cara berpikir kita dibagi menjadi 2 sistem yang berbeda. Ini bukan sesuatu yang “saklek” , kedua sistem itu dianalogikan oleh penulis agar lebih mudah dipahami. Ada sistem 1 yang bekerja dengan cepat dengan intuisi saja cukup, dan terkadang hasilnya salah. Yang lain adalah sistem 2 yang butuh effort dan analisa untuk mendapatkan jawaban yang tepat, tapi sistem 2 ini sangat malas dan sukanya mengambil cara cepat dan diserahkan ke sistem 1.

Saya berikan contohnya, jawab pertanyaan berikut :

2 + 2 = …

Itu namanya sistem 1 (Thinking Fast), gak butuh usaha keras untuk jawab.

 

Bagaimana dengan ini, soal berikutnya :

67 x 23 = …

Butuh usaha kalau niat menjawab, saat itulah kita akses sistem 2 (Thinking Slow).

Buku ini membahas banyak studi kasus penelitian psikologi, jadi butuh stamina ekstra untuk bisa menyelesaikannya. Dalam beberapa studi kasusnya kadang antar kedua sistem saling bekerja sama atau bahkan bisa membuat seorang ahli statistikpun bisa salah dalam membaca situasi.

Ada poin poin kunci disetiap chapter, membantu kita sadar cara pengaplikasian pengetahuan yang didapat di dunia nyata, contoh yang saya dapatkan :

  1. Saat kita menghindari resiko/kerugian, kita harus hati hati karena terkadang keputusan yang diambil adalah keputusan yang salah.

  2. Dalam beberapa situasi, reward lebih baik daripada punishment .

  3. Pemikiran dan keputusan kita mungkin sudah di jalur yang benar, tapi kita bisa terlalu overconfident yang bisa bikin amburadul, kecuali jika kita thinking slow terkait keputusan yang kita buat.

Sekian insight dari buku ini, masih perlu dibaca berulang untuk mendapatkan wawasan baru !

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

1 Comment

  1. Syahrul Munir on 28 May 2019 at 08:32

    Ketika otak berada pada mode thinking-slow saat itu otak sedang belajar. Tapi kadang karena tahu itu berat, jadinya males dan akhirnya gak belajar.

    Dasar, aku..

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Scroll To Top