INSIGHT & OUTSIGHT

Empower Yourself First, Then Empower Others!

by Syahrul Munir

Sharing session kemarin sukses membuat saya; dan saya kira beberapa teman di kantor kehabisan suara.

Tidak habis juga sebenarnya, cuma agak serak full bass plus sedikit vibrasi gitu sih. Bayangkan saja waktu kamu dengarkan suaranya Kevin, hehehe.

Itu semua terjadi setelah sesi Regresi karena efek dari Abreaksi, yang waktu itu dipandu oleh Mas Bagia, seorang praktisi meditasi dari The Golden Space Indonesia.

suatu metode dalam hypnotherapy untuk membawa client kembali masuk ingatan masa lalu.

Tujuan utamanya mencari akar permasalahan yang menyebabkan sakit atau trauma di masa lalu dan menyembuhkannya.

Tujuan lain adalah memberikan pandangan baru terhadap permasalahan yang telah didapat di masa lalu, sehingga klien punya cara mengantisipasi jika terjadi permasalahan di masa datang.

suasana saat sesi regresi

Saya beruntung, karena sebelumnya sempat belajar di sebuah workshop tentang "Basic Hypnotherapy”, teknik hipnosis untuk self-healing.

Hanya saja dalam kelas tersebut cuma ditekankan pada empowerment, untuk menghasilkan efek penyembuhan dalam kasus-kasus sederhana yang berorientasi pada Masa Depan. Tidak berurusan dengan masa lalu (luka traumatik, dsb).

Sesi regresi tersebut merupakan sesi hipnotis/hipnosis itu sendiri, yang sebenarnya adalah proses dari Self-Healing.

Jadi, jika bersungguh sungguh maka dirimu akan sadari. Ketika sesi regresi tadi yang sebenarnya menolong diri ini ya dirimu sendiri.

Mas Bagia di sana hanya sebagai fasilitator, dengan mengizinkannya untuk memandu menyelami pengalaman masa lalu diri ini.

floral-design

Every Hypnosis is Self-Hypnosis

Kalo dianalogikan kurang lebih seperti ini.

Ada seorang teman yang meminjam mobilmu, kamu bersama dia menuju sebuah tempat yang sudah kalian sepakati. Ketika kamu mengizinkan orang tersebut yang mengemudikan mobil, dan di tengah perjalan tiba-tiba dia berbelok menuju arah yang tidak kamu ketahui. Dan saat itu kamu merasa ada yang tidak beres, maka kamu dapat mengambil alih kemudi.

FYI, karena hipnotis adalah proses yang dilakukan secara sukarela oleh subyek yang dihipnotis. Jika di tengah sesi subyek merasa ada bahaya, maka subyek sebenarnya dapat meng-interupt proses di tengah sesi hipnosa.

Jadi bukan seperti gendam yang biasa dikenal di masyarakat, ketika ada orang ditepuk pundaknya kemudian langsung menurut.

Balik ke acara sharing session.

Saya coba ingat apa yang terjadi waktu sesi regresi.

Sebenarnya waktu fasilitator memerintahkan untuk kembali mengingat masa kecil, saya sendiri kurang bisa me-recall-nya. Yang saya rasakan, Syahrul kecil ini sepertinya suka marah-marah. Kalo marah, apapun dibantingnya, yang dekat dengan dia ditendangnya.

Kalo tidak salah dulu juga sering disamblek Bapaknya, si Ibu sampai tidak tega melihatnya.

Sudah bapak..! Sudah..! Suaranya si Ibu sedikit bergetar, seperti menahan kalau mau nangis. Mencoba menghentikan.

Saya masih belum menemukan jawaban, kenapa Bapak dulu sampai seperti itu ke anaknya. Entah karena tidak nurut, atau karena sebab yang lainnya. Saya sendiri waktu kecil kata Ibu juga tidak banyak mintanya.

Tapi tak tahu juga, ini nyata atau hayalan saya saja.

Selanjutnya, fasilitator memerintahkan untuk memanggil orang-orang yang kita anggap sebagai penyebab hati ini merasakan salah satu titik puncak dari kesakitan yang pernah dialaminya.

Lek dirimu tak kandani aku yo tau loro ati sebabe c-i-n-t-a! Mungkin, dirimu bakal percoyo? Lek percoyo, mungkin iso ae mbok anggep iku hal biasa dan mungkin rodok berlebihan juga sepertinya. Haha 😄

Saya bisa ceritakan kejadiannya, kalo kamu penasaran dan ingin tahu konteksnya. Ditunggu sampai ada 15 orang yang baca dan beri komentar artikel ini, baru nanti bisa saya buatkan konten tambahannya.

purwarupa konten

Saya rasa sebagai seorang perfectionist, diri ini sangat rentan terhadap kegagalan dan penolakan. Kurang bisa berkompromi dengan hal yang semacam itu sepertinya lumrah terjadi. Karena punya standar yang tinggi, membuat penolakan jadi pukulan telak bagi dia.

Tapi semakin kesini saya semakin sadar untuk terus berbenah diri, berusaha belajar dari setiap peristiwa yang terjadi. Belajar memaknai ulang, dengan membuat framing-framing baru pada setiap kejadian, pastinya dengan framing ke arah yang positif dan membangun buat bekal ke depan.

Saya lebih suka dengan bacaan bertema self-development. Tak lain dan tak bukan untuk melapangkan hati, lebih toleran juga terhadap kritik dan saran yang mengarah ke diri, agar lebih ngerti sebenarnya apa maunya saya ini.


Setelah sesi regresi tersebut, sesungguhnya perasaan saya juga belum benar-benar plong. Saya kira masih ada sedikit sisa yang mengganjal.

Dalam sesi kedua ketika fasilitator memandu peserta mencari jawaban tentang life-purpose nya. Saya tambah jadi tidak bisa konsentrasi.

Malah tambah buntu, mau minta kepada yang Maha Tahu? Lha ini sudah dengar adzan maghrib dikumandangkan kok ya tidak segera disambut datang.

Yang terpikir waktu itu cuma, “Sholat o dulu, nanti Aku kasih jawaban!”

Dan sampai tulisan ini dibuat belum saya isi lembar yang kedua.

Saya sendiri menulis dengan jawaban yang singkat pada lembar pertama, tentang apa yang saya suka, tidak suka, tentang pekerjaan saya saat ini.

  • Yang saya sukai dari perkerjaan saya adalah, bidang keilmuan yang dibutuhkan sangatlah sangat luas. Jadi saya bisa belajar sangat banyak.
  • Untuk kolom yang tidak saya sukai, saya isi dengan jawaban Rutinitas. Saya kurang suka dengan kegiatan yang terlalu banyak repetisi, ngulang-ngulang hal yang sama membuat saya cepat merasa bosan.
  • Untuk kolom harapannya belum saya isi, karena ingin setelah ikut sharing session ini saya dapat menemukan jawabannya nanti.

Journey of Finding The Life Purpose

Kemarin sempat lihat IG Story milik teman saya. Isinya pertanyaan "Waktu kecil mungkin kalian pernah bercita-cita, besok kalau sudah besar mau jadi apa?" VS “Sekarang sudah besar apakah cita-citanya masih tetap sama?

Untuk jawaban cita-cita waktu kecil sudah bisa kalian tebak, sangat sederhana. Contohlah seperti jadi guru, tentara, polisi, dan yang semacamnya. Kalo saya sendiri, dulu bercita cita pengen jadi pilot karena sepertinya enak bisa naik pesawat kemana mana. 😄

Sedangkan dengan pertanyaan yang sama, yang diajukan untuk diri mereka yang sudah beranjak dewasa? Sekarang jawabannya jadi lebih bijak, seperti bermanfaat bagi sesama, dapat memberikan dampak ke sekitarnya, ada juga yang sesederhana 'jadi istri baik buat suaminya'. Uwuwuwuu..


millennial and purpose

Sudah menjadi karakter millenial mencari makna di setiap hal yang dilakukannya.

Jika kerja hanya kerja, kerbau di ladang juga kerja bantu petani bajak sawah. Entah apakah sekarang masih ada?

Sedangkan kemarin kita tahu, level tertinggi dari insan manusia adalah menjadi 'pelayan' dan manfaat bagi alam semesta. Dengan mengupayakan segala dari sumber daya yang dimilikinya.

Seven Levels of Personal Consciousness Diagram

Rujukan: 


Bisa jadi diantara kalian sedang mengalami QLC (Quarter Life Crisis), dan tanpa sadar mungkin juga dialami oleh penulis yang sekarang sudah berjalan hampir seperempat abad usianya.

Mulai mikir lagi, sudah ngapain aja selama ini. Kembali mengaca kebelakang, apakah track yang ditempuhnya sudah benar dan sesuai.

Kamu merasa gak sih? Sudah di penghujung tahun 2018 loh ini, apa masih mau bikin resolusi-resolusi yang nyatanya jarang sekali terealisasi.

Ya, mungkin waktu yang akan menjawabnya nanti. Tiap orang punya timeline sendiri!


Terus gimana? Jadi sudah nemu belum Life Purpose nya?

Saya? Masih fokus untuk memberdayakan diri, membuat diri ini resourceful.

Semakin banyak bekal dalam diri, semakin banyak yang akan dikasih.

Mau buat orang jadi lebih berdaya? Buat diri berdaya lebih dulu.

Mau buat orang jadi lebih bahagia? Bekalnya, bahagiakan diri sendiri dulu

Mau bantu orang bisa renang? Buat diri mahir berenang. Karena jika tidak pastinya dirimu sendiri yang akan pertama tenggelam.

Einstein Quote

Thank You 🙂

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!