Hmm.. jadi kepikiran ngopi sambil santai nih abis baca judulnya 🙂

Judul diatas sebenarnya adalah judul buku yang saya baca bulan Januari lalu. Bukan buku baru, tapi yang dibahas masih applicable buat saat ini.

Ngebahas tentang marketing? Iya. Tapi bukan berarti temen2 programmer atau designer ga cocok baca ini. Ingat, everyone is salesperson. Hampir setiap hari sebenarnya kita menjual atau memasarkan sesuatu, sesimple ide kita atau skill kita ke perusahaan. Jadi ilmu sales dan marketing itu adalah modal supaya kita dikenal orang.

Buku ini diracik oleh beberapa penulis Indonesia. Salah satunya mas Rex Marindo. Agak kaget sih saya, ternyata ownernya Warung Upnormal yang ngehits ini dulunya pemilik Digital Agency. Eh ga tahu sekarang masih apa ngga.. pokoknya salut lah mas @rexmarindo!

Ada banyak point yang dibahas di buku ini dan mereka ngebahas masing-masing secara ringkas dan lugas. Dan saya akan merangkum konseptualnya dan sedikit menambahkan pemikiran saya. Selamat menikmati cappucino-nya!

Jangan Salah Sasaran Lepas Peluru

Pentingnya mengetahui siapa pelanggan kita adalah hal awal yang penting. Apa hobinya, apa profesinya, dimana dia sering menghabiskan waktunya, bermain di sosial media apa mereka. Bahkan hal-hal kecil lainnya perlu diketahui. Why? karena semakin akurat, maka kita bisa menjual product kita ke sasaran yang tepat. Waktu, effort dan biaya bisa lebih efektif dan tidak banyak terbuang sia-sia. Ini yang dinamakan customer persona, sebuah data yang menyajikan data siapa pelanggan kita. Lantas bagaimana cara mengetahuinya? Jika product teman2 masih baru, coba diingat lagi, kenapa product kalian ada. Pasti lahir dari sebuah masalah atau kebutuhan kan? Nah siapa pemilik masalah tersebut atau yang membutuhkannya? dari pertanyaan ini semestinya lahir siapa pelanggan kita. Jika teman-teman sudah terjun di sebuah industri yang sudah running, tapi belum punya dokumentasi terkait customer persona nya, coba gali data analytics yang ada misal dari Google Analytics atau lakukan survey.

Validasi Pasar Biar Gak Sia-Sia

Seringkali optimisme membuat kita gelap mata. Menganggap product kita ini pasti habis saat launching. Menganggap jika diberi diskon pasti laris. Menganggap design promo yang bagus pasti memikat. Menganggap brandnya sudah terkenal jadi pasti akan sold out. Hey ingat mindset ini jebakan Batman. Jangan terburu-buru berasumsi. Lebih baik validasi dulu marketnya sebelum melaunching sebuah product. Teman-teman bisa baca buku Customer Development. Disitu dibahas bagaimana step memvalidasi ide kita di pasar. Jadi akhirnya akan muncul kesimpulan, product kita ini dibutuhkan atau tidak oleh market?

Kata Siapa Branding Tak Lagi Penting?

Setuju dong ya kalo kaum millenial adalah populasi terbesar saat ini. Jadi mayoritas product ya ditujukan kepada mereka. Di tengah banyak pujaan terhadap kaum millenial, ternyata jadi millenial itu pusing lho! Banyak distraksi, banyak pilihan jadi bingung memutuskan. Lagi asik pilih product di marketplace, eh notif IG masuk. Ga lanjut order deh. Ya begitulah fenomena. Oleh karena itu, sebagai brand kita harus pintar-pintar cari peluang yaitu jadi yang mereka ingat bahkan mereka sayang. So meskipun banyak distraksi dan pilihan, ujung-ujungnya pilih kita. That’s why branding makin penting. Tantangannya branding ga bisa instant. Harus bikin campaign yang kreatif dan activity yang konsisten supaya kamu jadi top of mind. Kalo di buku ini mereka menyebutnya strategy 4C : Community (bangun komunitas atau join), Conversation (tiktokan biar makin dekat), Consistency (konsisten jalankan campaign & activity-nya), Cuan (tetap berorientasi ke profit)

Social Media Pillar, Sudah Punya?

Jadi ketika kita menjalankan aktivitas marketing di social media, jangan melulu soal jualan. Harus diperhatikan 4 pilar yaitu Communication, Collaboration, Educate, Entertainment. Biar kekinian, saya ambil contoh brand Jouska. Brand financial ini mainnya di sosmed keren banget lah menurut saya. Komunikasinya bagus, menyesuaikan audiencenya (coba aja liat instastory-nya). Jouska juga melibatkan audience-nya, mereka sering melempar issue ke audience sehingga tercipta komunikasi 2 arah. Bukan soal hahahihi ya, Jouska meski terkadang kontennya seolah membuka “aib” orang, tapi ada sisi edukasinya. Problem yang mungkin tabu dibicarakan, mereka memberikan edukasi. Jadi diam-diam banyak yang terbantu. Entertainment Jouska juga ngena. Konten mereka nggak kaku, komunikasinya santai, enak dibaca kala mau tidur. Sosial media kamu apa kabar?

Nah gak berasa ternyata uda panjang juga tulisannya. Padahal masih banyak yang belum dituliskan 🙁

So, saya akan menuliskan lagi di artikel yang terpisah (tapi gak sekarang ya) hal-hal menarik dibuku ini. Biar kemasannya beda, nanti saya akan tuliskan dalam poin-poin.

Semoga konseptual marketing ala buku ini bisa menambah keinginan teman-teman untuk segera action. See you!

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!