Sejatinya, memiliki seorang anak yang pintar dan berakhlak mulia merupakan idaman setiap orang tua. Oleh karena itu, sarana pendidikan merupakan wadah yang diharapkan para orang tua dapat merubah pola pikir, guna mencerdaskan sang anak. Di Indonesia sendiri sistem pendidikan sudah dimulai sedini mungkin.

Fixed Mindset vs Growth Mindset

Dweck (dalam Trisa dan Tessalonika, 2107) mendefiniskan fixed mindset sebagai keyakinan bahwa kualitas-kualitas dalam diri seseorang ialah hal yang sudah ditetapkan. Sedangkan growth mindset yaitu suatu keyakinan bahwa kualitas-kualitas dasar seseorang, seperti kecerdasan ialah hal yang dapat diubah dengan cara atau upaya tertentu. Pendamping anak-anak di usia dini baik orangtua, ataupun guru cenderung menekankan fixed mindset. Hal tersebut dapat terlihat dengan pemberian pujian yang seringnya dilakukan berulang-ulang untuk penyelesaian tugas yang serupa sehingga anak cepat merasa puas. Hal ini merupakan ciri fixed mindset yaitu ketika anak merasa dirinya sudah merasa mampu, kepintaran dianggap sebagai keturunan/hereditas yang akhirnya mengarah kepada perasaan mudah menyerah dan sulit menerima kritik dari orang lain. Dweck (dalam McKay, 2015), anak-anak dengan fixed mindset percaya bahwa mereka “pintar” atau “bodoh”, ada orang-orang yang “berbakat” terhadap bidang tertentu dan adapula yang tidak. Sebaliknya, anak dengan growth mindset percaya bahwa setiap orang dapat berhasil dan menjadi apa yang mereka inginkan. Tidak ada pembagian-pembagian kategori “pinta” vs “ bodoh”, “berbakat” atau “tidak berbakat” tetapi mereka percaya dengan usaha dan kerja keras kemampuan mereka dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih baik.

Dalam praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia, anak-anak seolah ‘dipaksakan’ terhadap pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung yang dalam tahapan ini anak-anak sebenarnya masih dalam tahap berpikir secara simbolik. Anak-anak yang pintar ialah yang mampu membaca, menulis dan berhitung, serta mengabaikan kemampuan lainnya yang justru apabila diarahkan dan dikembangkan dapat memperluas dan membuka pikirannya agar terus belajar melihat kedepan dan menerima kritik. Pendidikan anak usia dini di Indonesia masih terpaku pada standar berpikir yang kaku. Pencapaian seorang anak dilihat dari kemampuan mereka “sudah bisa apa?”. Seringkali kita temukan, anak-anak ditekan untuk dapat membaca dan berhitung saat TK. Anak-anak sejak TK diberikan pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang kurang mendorong mereka untuk mengasah kreativitas dan belajar dari alam.

Strategi Mengembangkan Growth Mindset

Menurut McKay (2015), terdapat 8 tips atau strategi yang dapat dilakukan, yaitu:

Bantulah anak-anak mengerti bahwa otak mereka bekerja layaknya otot-otot tubuh

Jangan sampaikan kepada anak-anak jika mereka pintar, berbakat, atau bertalenta

Biarkan anak-anak mengetahui ketika mereka menunjukkan growth mindset.

Berikan pujian atas proses yang dilakukan

Jangan puji hasilnya

Belajar untuk menerima kegagalan atau kesalahan

Mendorong partisipasi dan kolaborasi. 

Mendorong pembelajaran berbasis kompetensi.   

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!