“Sekarang saatnya pengumuman ya mas”, kata dosenku sesaat setelah aku masuk channel zoom ujian untuk kedua kalinya. Sebelum pengumuman, aku diperkenankan untuk keluar channel terlebih dahulu karena para dosen penguji berdiskusi terkait hasil ujianku.

“Udah siap ya?”, tambahnya

“Iya pak, sudah siap”, jawabku dengan penuh keyakinan bahwa halahh “pasti lulus”

Benar saja, dugaanku benar. Aku lulus.

Begitulah caraku mengakhiri masa kuliah. Cara yang aku idam-idamkan sejak awal aku masuk kuliah. Walau aku tak pernah berdoa untuk hal ini. Ujian skripsi online, siapa yang tidak mau? 

Saat pertama membaca edaran pengumuman dari kampus bahwa ujian skripsi akan dilakukan secara online akibat dampak dari penyebaran virus corona, aku membacanya berulang-ulang. Ingin memastikan bahwa informasi tersebut bukan hoaks. Ulang lagi, ulang lagi. Hingga pada akhirnya diskusi di grup whatsapp angkatan yang menyakinkanku bahwa ini bukan hoaks. 

“Yuhuuu, online sip mantap”, batinku dibarengi dengan senyum lebar. Senyum yang membelah duka dunia akibat corona. Salah satu senyum paling langka, senyum mahasiswa semester akhir.

Entah apa yang merasuki (jangan nyanyi). Seketika hari-hari aku lewati dengan penuh semangat. “Ayo cepat diselesaikan sebelum kampus berubah pikiran”, kalimat inilah motivasiku menyelesaikan laporan skripsi. Jika ujian skripsi berjalan normal mungkin aku harus menyiapkan mental berkali-kali lipat karena akan berinteraksi secara “langsung” dengan para dosen penguji. Sedangkan dengan ujian online beban mentalku tak perlu aku pikirkan berlebihan. 

Tidak pernah ku sangka aku bisa dengan cepat menyelesaikan skripsi hanya dalam dua setengah bulan saja. Memang, perlu motivasi untuk mengerjakan skripsi dan aku beruntung mendapat motivasi itu yang datangnya bukan dari orang tua atau pacar yang ingin segera aku lulus agar segera pula melamarnya. Sebelum ujian, aku sempat dipusingkan dengan koneksi internet dan device yang harus aku gunakan. Aku tersenyum penuh haru saat melirik si Legend, laptop super lemot yang ku miliki. “Baik-baik ya besok waktu ujian”, bisikku kepada Legend sambil ku elus-elus tubuhnya. Tak hanya itu, sinyal provider three yang buruk di rumahku , membuatku gugup menghadapi esok hari. Namun tak berpikir panjang aku putuskan untuk membeli paket data provider lain yang terkenal dengan sinyalnya mampu menembus pedalaman sekalipun. “2 GB saja, cukup sepertinya”, batinku saat berada di konter pulsa. 

“Sekarang saatnya pengumuman ya mas”, kata dosenku sesaat setelah aku masuk channel zoom ujian untuk kedua kalinya. Sebelum pengumuman, aku diperkenankan untuk keluar channel terlebih dahulu karena para dosen penguji berdiskusi terkait hasil ujianku.

“Udah siap ya?”, tambahnya

“Iya pak, sudah siap”, jawabku dengan penuh keyakinan bahwa halahh “pasti lulus”

“Selamat mas, kamu lulus dengan nilai maksimal. Kamu terlihat menguasai sekali skripsimu dan tenang saat presentasi hingga tanya-jawab”, seru dosenku,

“Alhamdulillah, terima kasih pak!”, jawabku -begitu saja yang aku ingat

2 GB itu tak terlupakan, 46:06 itu waktu yang tak terlupakan, sarung biru itu tak terlupakan (kapan lagi ujian skripsi sarungan), dan yang pasti IP semester 4,0 yang tak terlupakan. Aku punya cita-cita saat masuk kulaih dulu untuk menghiasi transkrip nilai dengan IP di salah satu semester dengan nilai sempurna, dan itu terwujud juga. Alhamdulillah. Corona adalah musibah, namun tak salah juga kan bersyukur di tengah musibah? Karena itulah pointnya. Bersyukur~

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!