Source: Pexels
Source: Pexels

Sebelumnya, saya sudah pernah dengar istilah KONMARI, tetapi belum mendalami apa itu KONMARI. Hari ini, saya diberikan kesempatan untuk explore tentang Konmari melalui Online Session di gameplay yang disediakan di kantor tempat saya Internship, JagoanHosting. KONMARI adalah sebuah metode menata, merapikan, menentukan barang mana yang ingin disimpan atau dibuang dengan mempertimbangkan aspek Sparks of Joy dan memprioritaskan pendapat diri kita sebagai si pemilik barang.

KONMARI diciptakan oleh Marie Kondo yang merupakan seorang ahli organizing dan best-seller author dengan buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing. Dalam merapikan barang-barang yang ada, metode ini menyarankan untuk menatanya berdasarkan kategori. Menurut metode ini, pakaian lebih baik dilipat dengan rapi ketimbang digantung, apalagi ditumpuk secara asal. Maka dari itu, diciptakanlah teknik melipat baju ala metode ini.

Trus, bagaimana saya “jajal” KONMARI di kehidupan pribadi?

Mungkin, hidup sebagai seorang anak kos, tidak banyak yang bisa dilakukan jika berkaitan dengan barang-barang fisik dan pakaian. Menurut saya, semua umat manusia punya rumah gak hanya tempat tinggal mereka saat ini, tetapi juga organisasi yang diikuti, lingkungan pertemanan, kampus, sekolah. Dari semua rumah tersebut, kita mengenal dan memiliki teman-teman baru. Jujur, beberapa tahun lalu, keinginan diri adalah punya banyak teman.

Setelah menjalaninya, seperti disadarkan, bahwa punya banyak teman tidak salah, tapi bukan hal yang terbaik untuk menjalani kehidupan sebagai manusia yang mulai masuk kepala dua. Dari situ, saya memilah hubungan-hubungan mana saja yang membuat saya bahagia dan akan berdampak positif jika saya simpan. Seperti konsep KONMARI, yang tidak memberikan kebahagiaan, lebih baik dibuang. Kesannya sih, ampun jahat banget. Ya, Anda akan tetap berpikir demikian sampai Anda menjalaninya sendiri.

Penerapan metode ini, tidak hanya terbatas untuk barang saja, tetapi bisa terhadap hubungan (relationship).

Dalam sebuah hubungan, tidak semua orang memiliki intention yang positif dalam berhubungan, tidak semua berniat menebarkan kebahagiaan, malah menjadi sumber kesedihan, kesakitan, bahkan trauma. Bohong jika hidup kita tidak pernah terpengaruh atau dipengaruhi orang-orang yang demikian. Jika demikian, lebih baik dibuang saja. Dibuang di sini bukan berarti literally dibuang, melainkan lebih ke mengurangi intensitas komunikasi, tidak terlalu banyak berinteraksi. Bukan berarti memutus hubungan baik secara total juga ya, hanya “kurang-kurangin yang gak perlu”, biar gak sakit.

Sekali lagi, jahat sih, susah sih, sedih sih. Tapi, bagaimana juga, above all else, self-care, self-love, harus jadi prioritas, jangan menyakiti diri sendiri, jangan menjebak diri sendiri jika sudah mengerti bahwa hidup bisa memilih,

Jadi, sayang aja sama diri sendiri, yang toxic dan no longer sparks joy, buaaaaaaannggggg, simpan yang positif dan membahagiakan…..agar diri ini bisa berkembang dan menjalani hari-hari yang lebih cerah.

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!