Bersyukur dan Ikhlas

kata bersyukur dan ikhlas pasti sudah sangat familiar di telinga banyak orang. Saking seringnya kadang kala banyak yang mengartikan sebagai formalitas ucapan saja. Setiap hari akan selalu ada aktivitas atau peristiwa baik yang menyenangkan, menyedihkan dan bahkan mengecewakan. Manusia seringkali banyak menuntut untuk selalu mengharapkan kebahagiaan di setiap detiknya dengan mengacuhkan negasi kebahagiaan tersebut.

Pernahkah kalian merasa kecewa dengan teman, keluarga, rekan, atau bahkan kondisi yang terjadi saat itu ? Sadarkah kalian bahwa rasa kecewa tersebut muncul karena ekspektasi kita yang terlalu besar terhadap segala sesuatu diluar diri kita ? Rasanya seperti ingin menampik realita bahwa tak ada yang perlu disalahkan. Rasanya ingin memungkiri kenyataan bahwa segala kondisi yang terjadi di dalam diri ini berawal dari dalam diri kita sendiri. Bukan dia, mereka, kondisi, melainkan aku, saya, diriku.

Pada awalnya saya sendiri pun mengelak bahwasanya segala masalah yang datang hadir dari dalam diri saya sendiri. Sekian banyak renungan yang telah saya lakukan dan semua menuju kepada faktor eksternal. Pada suatu waktu saya akhirnya menyadari, hanya ada satu kunci mengapa kekecewaan muncul dalam kehidupan saya.

saya kecewa karena saya terlalu berkespektasi tinggi hingga saya lupa bahwasanya tidak semua orang dan kondisi dapat saya paksa harus sesuai standar saya.

Tahukah kalian bahwa istilah “memafkan adalah perilaku mulia” itu berat ? ya, sangat berat hingga akhirnya kita tanpa sadar kata memaafkan hanya ritus belaka. Sejak saya menyadari sumber rasa kecewa tersebut, saya dapat lebih menghargai segala sesuatu yang terjadi pada diri saya. Perlahan saya dapat menerima dengan lega di dalam hati saya bahwa segala sesuatu memiliki keterbatasan, sebab musabab sendiri yang kadang tak dapat kita pahami. Dengan mencoba menerimanya secara ikhlas saya merasa selama beberapa waktu terakhir ini hidup pun terasa lebih tenang. Saya lebih menghargai diri saya sendiri untuk jangan berlebihan memikirkan segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi. Saya memutuskan untuk menikmati hidup dengan selalu bersyukur atas nafas dan kesempatan yang diberikan Tuhan bahwa hingga detik ini saya dapat menyaksikan indahnya drama kehidupan yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini.

Menikmati hidup dengan motto “let it flow” bukan berarti pasrah dan tak mau berkembang. Sudah sepatutnya manusia yang memiliki akal untuk selalu berusaha berkembang. 5 ayat pertama Al-alaq turun sebagai wahyu yang disampaikan Jibril kepada Muhammad saw agar manusia dapat membaca, memahami, mempelajari kehidupan karena Tuhan telah menciptakan manusia dan mengajarkannya apasaja yang tak diketahuinya. Maka sudah selayaknya manusia terus berkembang karena Tuhan pun menjanjikan untuk selalu mengajarkan apa saja yang tak diketahui manusia.

Marilah sejenak kita luangkan waktu untuk merenungkan apa saja yang telah terjadi dalam hidup kita. Marilah kita kembali mencari apa hakikat keberadaan kita di kehidupan ini. Marilah kita kembali menemukan nikmat nya hidup dengan selalu bersyukur. Artikel ini akan saya tutup dengan sedikit kutipan yang hingga saat ini menjadi pegangan saya untuk selalu mencari rasa syukur dalam setiap peristiwa yang terjadi pada diri saya.

Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Besar kecilnya hikmah yang dapat dirasakan tergantung bagaimana dan dari arah serta sudut mana kita melihatnya.

mm :2020

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!