Photo by Tim Mossholder on Unsplash

Cara agar memliki energi positif yang paling penting bukan dari berpikir positif melainkan mulai dari merasa positif. Sebuah penelitian menunjukan bahwa hati kita memancarkan sinyal elektrik 100.000 kali lebih besar dan memancarkan sinyal magnetis 5000 kali lebih besar dibanding otak.

Level Kesadaran

Emosi kita dapat diukur berdasarkan frekuensinya. Seperti yang dapat dilihat pada gambar diatas, pada frekuensi-frekuensi rendah yang ada adalah emosi-emosi negatif. Sedangkan emosi positif berada pada frekuensi-frekuensu atas. Untuk selalu mempunyai energi positif, emosi di frekuensi rendah ini harus kita hilangkan.

Menurut hukum Termodinamika, energi tidak bisa dibuat dan hilang melainkan berubah bentuk kebentuk lain. Energi juga dapat ditransfer dari satu tempat ke tempat lain. Ketika memliki emosi negatif kita harus mentransformasikan energi negatif tersebut ke energi positif.

Suatu ketika seorang musisi menulis lirik lagu tentang pengalaman pahitnya tentang cinta, ketika lagu tersebut dirilis lagu tersebut populer. Musisi tersebut menjadi bahagia atas pencapaian dari lagu yang ditulisnya. Ini merupakan contoh dari mentransfer energi negatif pada suatu media hingga berbalik menjadi energi positif.

Ketika mentransfer energi negatif tersebut ke hal lain bukan berarti energi tersebut hilang melainkan bertransformasi menjadi. Disini hikmah yang diambil oleh musisi tersebut membuatnya merubah energi negatif dari pengalamannya menjadi energi positif.

Energi-energi negatif selalu muncul di keseharian kita namun yang terpenting adalah mempunyai media yang tepat untuk mentransfer energi tersebut agar dapat bertransformasi menjadi energi positif. Mencari media yang tepat adalah kunci dari kontrol emosi yang baik.

Mencari Media yang Tepat

Dari sini saya pribadi mengevaluasi diri tentang media apa yang bisa dijadikan pelampiasan dengan timbal balik positif. Media apa yang baik untuk menyalurkan dan dapat mengubah energi negatif menjadi positif?

Apakah bermain game? Tidak semua game saya rasa dapat menjadi media yang baik. Game-game kompetitif tentu tidak selalu menghasilkan output yang baik. Ketika kalah hanya menambah energi negatif berarti game tersebut bukan media yang tepat.

Mendegar lagu? Lagi-lagi tidak semua lagu saya menghasilkan output yang baik. Ada beberapa lagu yang hanya menyeret kita lebih dalam ke emosi-emosi negatif.

Menulis? Media yang satu ini saya rasa lebih tepat. Saya pernah kalah dalam suatu kompetisi, rasa kalah tersebut tidak hilang satu-dua hari. Saya coba menulis pengalaman saya tersebut di blog pribadi saya. Membuat sebuah tulisan dari pengalaman yang buruk ternyata dapat membantu saya mengeluarkan rasa kecewa, kok bisa?

Ketika membuat tulisan tersebut saya dipaksa mengingat semua kejadian yang saya alami. Ternyata saat dan sebelum kejadian tersebut ada kenangan yang baik juga. Selanjutnya ketika membuat tulisan adalah memilih diksi yang tepat. Ketika mendapat diksi yang tepat untuk menggambarkan suatu kejadian ini menimbulkan rasa yang positif juga untuk pribadi.

Jadi, untuk saya pribadi menulis merupakan media yang baik untuk mentransformasikan dan mengubah energi negatif ke energi positif.

Sekian artikel ini, semoga bermanfaat.

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!