Pemikiran atau Perasaan?

(sumber: Meritamanaa, 2016)

Setiap makhluk hidup memiliki kemampuan yang hebat oleh penciptanya, terutama kita sebagai manusia. Manusia diberikan organ-organ penting (otak, hati, dsb.) untuk beropasi. Adapun istilah dalam mengukur kemampuan manusia seperti IQ dan EQ. IQ (Intelligence Quotient) adalah kecerdasan rasional, sedangkan EQ (emotional quotient) adalah kecerdasan perasaan. Sehingga dapat disimpulan bahwa otak kita memiliki kemampuan IQ, dan hati kita memiliki kemampuan EQ. Sangat disayangkan apabila kemampuan yang kita miliki tidak kita seimbangan dengan baik. Contohnya seperti pada dunia pendidikan kita, dimana pendidikan kita hanya memfokuskan untuk meningkatkan kemampuan otak kita saja (IQ). Perlunya sebuah kesadaran dari kita sendiri untuk meningkatkan juga kemampuan hati kita (EQ). Saputra (2018) menyatakan bahwa terdapat penelitian yang dilakukan David Hawkins dalam mengukur kemampuan manusia pada EQ yang dimiliki. Seperti perasaan malu, marah, cinta, damai, dan sebagainya merupakan ukuran dari perasaan setiap manusia. Perasaan malu, marah, dan sebagainya merupakan ukuran EQ yang rendah. Perasaan cinta, damai, dan sebagainya merupakan ukuran EQ yang tinggi. Perasaan/emosi yang manusia pancarkan dari dalam dirinya pun dapat kita definisikan kondisi manusia tersebut sedang mengalami emosi apa.

Apa itu Emosi?

Emosi diambil dari kata Bahasa Inggris yaitu Emotion. Emotion memiliki kepanjangan Energy in Motion, yang berarti sebuah energi yang bergerak. Sebuah energi juga memiliki sifat yang berubah bentuk dan tidak bias hilang. Sehingga, dapat dikatakan bahwa emosi dapat diubah menjadi lebih positif. Tahapan awal dalam memperbaiki emosi kita adalah mengidentifikasi isu-isu yang ada dalam diri kita. Isu-isu diri kita seperti hal-hal yang kita benci pada lingkungan yang kita tempati. Ketika isu-isu tersebut dapat kita atasi/perbaiki, maka kita sudah satu langkah kedepan dalam merubah emosi menjadi lebih positif. Saputra (2018) memberikan sebuah teknik meditasi untuk memperbaiki juga emosi yang sedang tidak baik, yaitu fast breathing (bernafas cepat) dan screaming (berteriak). Ketika manusia sudah memiliki emosi yang baik, maka akan memiliki pemikiran yang jernih.

Menentukan Tujuan

Insight yang saya dapat adalah ternyata banyak sekali prinsip bahwa menjalankan hidup itu hanya tinggal “nikmati saja”, “jalani saja”, atau “hadapi saja”, sehingga menimbulkan juga sikap pemikiran untuk “tidak berfikir kedepan (visioner)”. Pernyataan-pernyataan tersebut lah yang mendefinisikan diri kita memiliki emosi yang rendah (pasrah, takut, dan sebagainya). Perlunya sebuah emosi yang tinggi/baik dalam menjalankan hidup kita masing-masing. Ketika sudah memiliki emosi yang baik dan pemikiran yang jernih, selayaknya kita harus mempunyai tujuan hidup yang besar yang membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Pribadi saya sendiri masih belum memiki emosi yang sempurna dan jauh dari kata baik. Terpenting adalah, dari segala emosi yang kita miliki, jangan pernah berpikir bahwa emosi yang buruk itu dapat dihilangkan. Karena dalam diri kita tentunya memiliki sifat-sifat emosi yang sama, hanya saja pengontrolan diri kita lah yang dapat menjaga/menahan emosi tersebut, baik itu emosi senang, sedih maupun lainnya. Tetapi dengan insight yang saya dapat dari pemahaman emosi, saya sadar bahwa setiap manusia dapat mengatur dengan baik emosinya.

Tujuan saya kedepannya adalah, meningkatkan kepercayaan diri saya terhadap segala visi-visi yang saya miliki. Sejak saya masuk ke dunia perkuliahan, satu per satu tujuan saya muncul secara bertahap. Tetapi saya merasa bahwa visi tersebut tidak dapat saya capai atau saya raih. Perasaan tersebut timbul dikarenakan saya sadar dengan kemampuan saya yang masih rendah. Muncul lah sebuah sifat kurang percaya diri, kepasrahan, dan kemalasan pada diri saya. Saat ini pun saya sadar bahwa perasaan tersebut perlu disingkirkan, dan memunculkan sebuah sifat yang baik untuk meraih visi-visi yang saya miliki. Salah satu visi saya saat ini adalah, membantu beban orang tua saya dalam segi apapaun sehingga pada masa pensiun orang tua saya nanti dapat hidup tanpa terus mefikirkan anak-anaknya yang sedang bekerja. Saya yakin, langkah pertama yang saya ambil saat ini adalah tahap pertama untuk lebih dekat dengan visi yang saya miliki.

SUMBER

Saputra, Bagia Arif. 2018 : https://www.youtube.com/watch?v=EP2W2fGMYzI
Meritamanaa. 2016 : https://meritamanaa.wordpress.com/2016/11/09/heart-vs-brain/
Psyblog. 2016 : https://www.sott.net/article/334031-The-key-to-emotional-control-Flexibility-in-situations-you-cannot-control
Chan, Chris. 2018 : https://medium.com/@chrischan/how-to-launch-new-product-features-16612c28424

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!