Skip to content

Pingin Bahagia Tapi Gimana?

Puluhan menit saya nangkring menonton video sharing session dari Mas Bagia, tetapi bukannya lega tetapi justru lelah rasanya. Bukan, bukan saya bilang Mas Bagia gagal dalam penyampaian materinya, justru sebaliknya – dia berhasil. Berhasil membuat saya berkontemplasi dengan diri saya sendiri, menilai ulang nilai diri saya, tujuan hidup dan berbagai hal fundamental lainnya. Ah, pusing.

Pusing dari mana saya harus memulai, karena rasa-rasanya langkah yang saya ambil sudah salah dari awal, dari akar. Apakah saya harus menyusun ulang rencana hidup saya? Atau saya harus mencoba memaafkan kesalahan diri sendiri terlebih dahulu? Mungkinkah dimulai dari menilai di mana level kesadaran diri saya? Masih di level shame kah? Atau mungkin sedikit lebih baik sudah berada di level pride? Saya tidak tahu.. sudah dibilang saya pusing sejak awal.

Informasi yang dibawa oleh Mas Bagia begitu banyak, terlalu deras hingga saya tenggelam dalam pusaran informasi, pusing sendiri. Lama saya berpikir, sambil jari-jari ini menari di atas papan ketik mencari jawaban di belantara dunia maya hingga akhirnya saya bertemu dengan teman lama, bertahun lamanya tak bersua hingga pada detik itu saya berjumpa dengan karyanya.

Namanya Nora Fionna Humanika. Karyanya sederhana, mungkin terkesan sepele dan cuma bernilai sebagai suatu objek hiburan semata tapi karyanya mampu membuat saya bernafas lega. Saya tau dari mana saya harus memulai pembenahan diri ini.

Boleh sekali diintip di sini https://www.webtoons.com/id/challenge/makna/belajar-bahagia/viewer?title_no=192267&episode_no=2&webtoon-platform-redirect=true

Pada intinya tujuan hidup saya adalah untuk bisa berbahagia dengan orang-orang yang ingin saya bahagiakan, dan teman saya ini dengan halusnya menarik pensil, menciptakan sebuah komik webtoon dengan pesan yang kelewat sederhana.

Bahwa bagi dia bahagia adalah sebuah proses belajar.

Belajar memperkaya sudut pandang untuk menghargai pencapaian-pencapaian kecil.

Belajar menepis prasangka untuk melihat kebaikan dalam diri orang lain.

Belajar melapangkan dada untuk mensyukuri kegagalan layaknya keberhasilan.

Belajar memahami bahwa ketidaksempurnaan adalah salah satu bentuk karunia.

Dan belajar, bahwa dari diri kita sendirilah tempat kebahagiaan itu bermula.

Mungkin saat ini saya masih berada di tahap shame terhadap diri saya, malu terhadap bentuk fisik dan kemampuan otak yang tak seberapa serta bakat yang hampir tidak ada.

Mungkin saat ini saya masih berada di level survival, di mana tujuan hidup saya semata-mata hanya untuk survive, belum terpikir bagaimana bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi makhluk lain.

Tapi tidak apa-apa, perlahan, pelan-pelan. Di mulai dari diri saya sendiri, kebahagiaan itu akan bermula.  

Kamu merasa artikel ini menarik dan bermanfaat? Bagikan ke temanmu sekarang yuk!

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Scroll To Top